BATUCEPER,BANTENEKSPRES.CO.ID – Puluhan Warga di dua Kelurahan di Kecamatan Batuceper Terjangkit penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), penyakit yang ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti.
Sebaran penyakit DBD yang dinilai cukup tinggi di dua Kelurahan tersebut yakni Kelurahan Batusari dan Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper.
Warga RT 02 RW 06 Kelurahan Batusari, Bahrul Hikam mengatakan, dalam pekan ini lingkungan dekat rumahnya sebanyak lima orang terjangkit DBD.
Menurut Bahrul, tiga orang telah dinyatakan sembuh, sedangkan dua warga lainnya hingga kini masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Didekat rumah saya saja ada lima orang terkena DBD, tapi tiga orang sudah pulih atau sembuh, dua orang lagi masih dirawat di rumah sakit. Sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Dr Sitanala Tangerang, namun kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo,” ungkap Bahrul saat dihubungi, 6 Desember 2026.
“Ini tentu jadi keprihatinan bersama,” sambungnya.
Menurut Bahrul, adanya beberapa warga di wilayahnya terjangkit penyakit DBD dinilai cukup mengkhawatirkan. Sebab, sejak bulan Desember 2025 musim hujan dengan intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan kondisi cuaca yang ekstrem tersebut seharusnya dilakukan antisipasi dengan kegiatan kerja bakti dan pembersihan lingkungan secara rutin untuk mencegah munculnya genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk DBD.
“Dalam kondisi musim hujan seperti ini, kerja bakti dan pembersihan lingkungan itu sangat penting. Itu langkah dasar untuk memutus rantai penyebaran DBD. Tapi faktanya, tidak ada sama sekali kegiatan pencegahan yang dijalankan oleh RT dan RW,” beber Bahrul.
Bahrul menilai, absennya upaya pencegahan tersebut berdampak langsung pada meningkatnya kasus DBD di lingkungan warga. Beberapa korban bahkan harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat kondisi yang cukup serius.
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan, lanjut Bahrul, pemuda setempat akhirnya mengambil inisiatif untuk bergerak. Dia bersama rekan-rekan pemuda melakukan komunikasi dan menyampaikan laporan langsung kepada pihak kelurahan pada Senin, 5 Januari 2025, agar persoalan tersebut segera ditindaklanjuti.
“Kami sebagai pemuda tidak bisa diam. Kemarin kami langsung melapor ke lurah dan jajarannya supaya masalah ini bisa segera ditangani dan dikoordinasikan sampai ke RT dan RW,” ujarnya.
Bahrul menyebut, laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti. Pada hari ini, Selasa, 6 Januari 2025, perangkat kelurahan bersama pihak puskesmas melakukan peninjauan langsung ke lokasi untuk melihat kondisi lingkungan dan potensi penyebaran DBD di wilayah RT 02 RW 06.
Namun dalam pelaksanaan peninjauan tersebut, menurut Bahrul, tidak adanya pendampingan yang seharusnya dilakukan oleh pihak RT maupun RW setempat.
“Saat peninjauan dari kelurahan dan puskesmas, kami lihat RT dan RW tidak hadir. Tidak ada pendampingan sama sekali. Akhirnya koordinasi di lapangan kembali tidak berjalan optimal,” ujarnya.
Menurut Hikam, kondisi ini menunjukkan bahwa peran dan tanggung jawab RT dan RW dalam upaya pencegahan serta penanganan kasus DBD masih perlu dievaluasi secara serius. Ia berharap kelurahan dapat memberikan peringatan dan pembinaan agar struktur kewilayahan di tingkat bawah lebih responsif terhadap persoalan kesehatan warga.
“Kami berharap ada ketegasan, evaluasi dan peringatan dari kelurahan untuk para RT RW-nya, Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Kesehatan warga harus menjadi prioritas utama,” pungkasnya.
Kasus DBD khususnya di lingkungannya di RT 02 RW 06 menjadi pengingat bahwa penanganan penyakit berbasis lingkungan tidak cukup dilakukan secara reaktif. Diperlukan peran aktif seluruh unsur wilayah, terutama RT dan RW, agar pencegahan dapat berjalan efektif dan keselamatan warga lebih terjamin.
Sementara itu, Petugas Puskesmas Batusari, Adiyaksa selaku Penanggung Jawab penanganan kasus DBD, mengatakan, selama ini pihaknya menangani sebanyak 29 kasus DBD dan 73 Demam bisa. Penanganan kasus DBD dilakukan berdasarkan laporan resmi dari rumah sakit dan hasil pemantauan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
“Setelah laporan kasus DBD masuk dari rumah sakit, kami langsung melakukan penyelidikan epidemiologi ke lapangan, memeriksa jentik, dilanjutkan dengan kerja bakti, penyuluhan, dan fogging bila diperlukan,” kata Adiyaksa.
Dia menambahkan, di wilayah kerja Puskesmas Batusari terdapat 16 kader Jumantik sesuai jumlah Posyandu. Selain itu, pada tahun 2026 pihaknya mulai menjalankan program Jumantik Sekolah yang melibatkan Dokter Kecil, Penanggung Jawab UKS, dan Kesehatan Remaja.
Adiyaksa menyebut peningkatan kasus DBD umumnya terjadi pada bulan Juni, Juli, dan November 2025, seiring meningkatnya curah hujan. Pihak puskesmas pun mengimbau masyarakat untuk aktif melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.(*)











