SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Banten mencatat, masih ada sekitar 164.000 anak usia sekolah di Banten tidak sekolah, terdiri dari yang putus sekolah maupun yang tidak pernah sekolah.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh pemerintah, khususnya terkait dengan pemerataan pendidikan di Provinsi Banten.
Kepala Bagian Umum BPMP Provinsi Banten Bonny Hanafi Dacosta mengatakan, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan angka anak putus sekolah (ATS) di Banten cukup tinggi. Mulai dari masalah ekonomi, kultur sosial, hingga lingkungan.
“Namun setidaknya ada komitmen pemerintah dalam menjamin pendidikan bagi seluruh anak bangsa,” katanya Jumat 8 Agustus 2025.
Maka dari itu, program wajib belajar dari 9 tahun menjadi 13 tahun dibutuhkan langkah konkret yang berkelanjutan untuk mewujudkan pemerataan pendidikan di Provinsi Banten.
Bonny berharap ada kolaborasi strategis antara BPMP, pemerintah daerah, dan seluruh stakeholder pendidikan dalam menurunkan angka ATS di Banten. Selain itu, yang terpenting juga pemerintah bisa memastikan keberhasilan program Wajib Belajar 13 Tahun di Provinsi Banten, dengan PAUD sebagai titik awal penting dalam perjalanan pendidikan anak.
Sementara itu, Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni mengatakan, wajib Belajar 13 Tahun adalah bentuk komitmen untuk memberikan kesempatan belajar seluas-luasnya bagi anak-anak Indonesia, termasuk di Provinsi Banten.
“Pendidikan PAUD adalah fondasi yang tidak boleh diabaikan, karena di sanalah pembentukan karakter dan kemampuan dasar anak dimulai,” katanya.
Menurutnya, kondisi banyaknya ATS diperlukan intervensi terpadu agar tak ada anak yang tertinggal dari dunia pendidikan.
“Anak-anak yang tidak bersekolah adalah potensi bangsa yang sedang menunggu untuk dibangkitkan. Kita harus hadir untuk mereka, memastikan tak satu pun tertinggal dalam hak dasarnya yaitu pendidikan,” ungkapnya.
Meski begitu, kata Tinawati, anak-anak usia 5–6 tahun harus mendapat akses PAUD sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan dasar. Sebab itu penting bagi tumbuh kembang anak, sekaligus juga dukungan keluarga, khususnya ibu, dalam mendampingi proses pendidikan sejak dini.
“Program PAUD harus menjadi prioritas. Pendidikan karakter, stimulasi motorik, dan kebiasaan belajar yang sehat harus dibentuk sejak dini. Anak-anak kita harus siap menghadapi jenjang pendidikan berikutnya dengan bekal yang kuat,” paparnya. (*)










