CILEDUG, BANTENEKSPRES.CO.ID — Pendidikan inklusif bukan sekadar konsep menyatukan anak-anak reguler dan anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam satu atap sekolah, melainkan tentang bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang setara, adaptif, dan manusiawi.
Di SDN Peninggilan 6, Kecamatan Ciledug, komitmen ini diterjemahkan secara nyata ke dalam rutinitas harian melalui dedikasi seorang Guru Pendidikan Khusus (GPK), Dinda Aprilia. Baginya, mendampingi peserta didik berkebutuhan khusus menuntut kombinasi antara kesabaran tingkat tinggi, pendekatan psikologis yang mendalam, serta metode pengajaran yang fleksibel agar tidak ada anak yang tertinggal dalam proses belajar-mengajar.
Sebagai sekolah negeri yang mengusung konsep inklusi, SDN Peninggilan 6, sejak 2023, dihadapkan pada dinamika kelas yang beragam. Kehadiran siswa berkebutuhan khusus dengan berbagai spektrum seperti lamban belajar (slow learner), hambatan perhatian (ADHD), hingga spektrum autisme menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik.
Di sinilah peran strategis Guru Pendidikan Khusus (GPK) menjadi pilar utama. Setiap harinya, Dinda tidak hanya berfokus pada ketuntasan materi akademik semata, melainkan memastikan bahwa aspek penyesuaian sosial, kemandirian, dan kenyamanan psikologis siswa terpenuhi dengan baik.
“Secara keseluruhan dibswkolah kami ada 15 anak masuk kategori berkebutuhan khusus. Menangani mereka ini di sekolah reguler membutuhkan pendekatan personal yang konsisten, kata Dinda, saat ditemui, Kamis, 5 November 2026.
“Setiap anak adalah individu yang unik; apa yang berhasil pada satu anak, belum tentu efektif untuk anak lainnya,” sambungnya.
Dalam praktiknya di ruang kelas, Dinda menerapkan beberapa tahapan penanganan harian yang sistematis guna memastikan proses belajar-mengajar berjalan efektif bagi siswa inklusif:
Sebelum memulai jam pelajaran, Dinda biasanya melakukan observasi singkat dalam melihat kondisi suasana hati (mood) dan kesiapan belajar siswa berkebutuhan khusus pada hari tersebut. Pendekatan emosional di awal sangat membantu meredakan kecemasan anak sebelum masuk ke materi inti.
Dia menjelaskan, anak berkebutuhan khusus sering kali menghadapi hambatan dalam menyerap informasi dengan tempo yang sama seperti anak reguler. Dinda membantu memodifikasi lembar kerja atau menyederhanakan instruksi tugas (differentiated instruction). Pendekatan visual, media peraga konkrit, serta pengulangan materi secara sabar menjadi menu wajib dalam pendampingannya.
Dikatakannya, dalam proses belajar mengajar ia kerap membantu mereka fokus, dengan memberikan bimbingan khusus di ruang sumber ketika siswa membutuhkan ketenangan ekstra.
“Kami terus melakukan evaluasi belajar terpantau secara komprehensif,” ujarnya.
Senada dikatakan, Indri Rahmatunnisa, selaku penanggung Jawab Kelas ABK, tantangan terbesar dalam sekolah inklusif bukanlah semata-mata mengajar siswanya, melainkan membangun kesadaran sosial di lingkungan sekitar. Ia menyampaikan, pihaknya secara aktif menanamkan nilai-nilai toleransi dan empati kepada para siswa reguler di lingkungan sekolahnya agar mereka terbiasa saling menghargai perbedaan, tidak melakukan perundungan (bullying), dan mau merangkul teman sebayanya yang memiliki kebutuhan khusus.
“Alhamdulillah, siswa lainnya disini memahami keberadaan teman-teman mereka yang berkebutuhan khusus,” kata Indri.
Indri juga tidak menampik bahwa proses penanganan harian ini tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan waktu, variasi karakteristik hambatan siswa yang kompleks, serta pemenuhan sarana pendukung yang memadai terkadang menjadi ujian tersendiri di lapangan. Namun, berkat dukungan dari warga sekolah, kepala sekolah, serta rekan-rekan guru di SDN Peninggilan 6, berbagai kendala tersebut dapat diatasi secara gotong royong.
Ia juga mengapresiasi Pemkot Tangerang yang telah memfasilitasi anak-anak berkebutuhan khsusnya untuk tetap dapat di sekolah reguler seperti SDN Peninggilan 6 ini.
Ia menyampaikan,, bahwa sekolah inklusi merupakan bukti bahwa Pemkot Tangerang peduli terhadap pendidikan seluruh anak-anak di Kota Tangerang.
“Setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, tanpa terkecuali. Oleh karenanya, kami sangat mengapresiasi Pemkot Tangerang penerapan program sekolah inklusi ini. Sekolah inklusi memiliki fasilitas penunjang kegiatan belajar dan mengajar yang sama. Mulai dari sarana prasarana, guru pendamping, hingga psikolog anak,” papar Indri.
Ia menyatakan, SDN Peninggilan 6 Kota Tangerang terus membuktikan bahwa sekolah negeri mampu menjadi rumah kedua yang aman, inklusif, dan ramah bagi seluruh anak tanpa terkecuali.
Ia berharap, keberadaan sekolah inklusif seperti SDN Peninggilan 6 dapat terus mendapat perhatian optimal, baik dari segi peningkatan kapasitas guru, ketersediaan fasilitas pendukung yang ramah disabilitas, maupun sinergi yang semakin kuat dengan para orang tua di rumah.
“Pendidikan adalah hak segala bangsa, termasuk anak-anak istimewa kita. Melihat mereka tersenyum, mampu memahami hal baru, dan merasa diterima di sekolah adalah kepuasan batin yang tidak ternilai harganya,” pungkasnya.(*)
Reporter : Abdul Aziz










