12 Kelompok Anak Muda Penggerak Aksi Iklim Terima Hibah YCAF dari Bloomberg Philanthropies

Ananda Cahya Latif, siswa kelas IX SMPN 7 Pasar Kemis saat diwawancarai, Selasa 27 Oktober 2026.

 

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Sebanyak 12 kelompok anak muda di Kabupaten Tangerang menerima hibah program Youth Climate Action Fund (YCAF) dari Bloomberg Philanthropies.

Bacaan Lainnya

Bloomberg Philanthropies menyalurkan dana hibah senilai 40.000 dolar AS atau sekitar Rp750 juta untuk merealisasikan berbagai inovasi dalam penanganan perubahan iklim dan perbaikan lingkungan.

Salah satu penerima hibah, Ananda Cahya Latif, siswa kelas IX SMPN 7 Pasar Kemis, menceritakan inovasi yang dibuat oleh kelompoknya berawal dari keresahan terhadap bau tidak sedap aliran Sungai Cilongok di sekitar sekolah.

Ia bersama para siswa SMP Negeri 7 Pasar Kemis menciptakan inovasi ramah lingkungan bernama Eco-Chill. Program ini memanfaatkan limbah organik untuk diolah menjadi eco-enzyme sebagai upaya mengurangi bau sungai.

“Di sekolah kami ada aliran Sungai Cilongok yang menyebabkan bau tidak sedap. Dari situ, kami terinspirasi membuat Eco-Chill, yaitu membuat eco-enzyme dari limbah-limbah organik,” ujarnya, Selasa 27 Oktober 2026.

Dibimbing oleh Bu Parsih, para siswa memanfaatkan kulit buah dan sisa organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), gula tebu atau molase, serta air. Bahan-bahan tersebut dicampur dengan perbandingan 1:3:10 dan difermentasi selama minimal 90 hari.

“Kebetulan kepala sekolah kami memahami mengenai eco-enzyme. Akhirnya, kami membuat eco-enzyme dan menuangkannya ke sungai tersebut,” kata Parsih, pembina program Eco-Chill.

Inovasi yang melibatkan sekitar 20–50 siswa ini berhasil mengantarkan tim Eco-Chill menjadi salah satu dari 12 finalis terpilih dari total 18 finalis dalam ajang penghargaan yang diikuti.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, mengatakan program tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Bloomberg Philanthropies, organisasi internasional yang berbasis di Amerika Serikat.

Menurut Erwin, program YCAF memberikan kesempatan kepada anak muda untuk berkontribusi secara langsung dalam memperbaiki tata kelola iklim melalui gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan di lingkungan masing-masing.

“Agenda utamanya bukan penanaman bambu. Penanaman bambu ini hanya melengkapi kegiatan yang kita lakukan. Kegiatan utamanya adalah menyalurkan hibah kepada kelompok anak-anak muda yang punya ide dan gagasan untuk memperbaiki tata kelola iklim di Kabupaten Tangerang,” ujar Erwin.

Ia menjelaskan, Kabupaten Tangerang menjadi salah satu dari tiga daerah di Indonesia yang terpilih dalam program YCAF, bersama Kabupaten Minahasa Utara dan Provinsi DKI Jakarta. Ketiganya terpilih dari sekitar 250 kabupaten/kota yang berpartisipasi dalam program tersebut di berbagai negara.

Proses seleksi di Kabupaten Tangerang diawali dengan pendaftaran yang diikuti sekitar 40 kelompok. Setelah melalui tahapan seleksi, sebanyak 18 kelompok masuk babak final, sebelum akhirnya ditetapkan 12 kelompok sebagai penerima hibah.

Erwin menyebutkan, total dana sebesar 40.000 dolar AS tersebut akan didistribusikan kepada seluruh kelompok terpilih sesuai dengan kebutuhan dan besaran anggaran yang diajukan dalam proposal masing-masing.

Dana tersebut menjadi stimulus bagi para penerima untuk menjalankan aksi nyata berbasis gagasan yang telah melalui proses seleksi. Pemkab Tangerang juga akan terus berkoordinasi dengan Bloomberg Philanthropies untuk memantau pelaksanaan program.

“Dana hibah ini kita distribusikan kepada 12 pemenang. Besaran anggarannya bergantung pada proposal yang mereka ajukan. Kami tetap terhubung dengan Bloomberg Philanthropies untuk memantau pelaksanaan kegiatan ini,” jelasnya.

Ke-12 kelompok penerima hibah mengusung gagasan yang beragam, mulai dari pemanfaatan teknologi hingga pengelolaan sampah dan konservasi lingkungan.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah aplikasi pemantauan kualitas udara. Inovasi lainnya berupa pembuatan lubang biopori di wilayah yang rawan kekeringan maupun banjir, serta pengolahan sampah organik menjadi eko enzim.

Erwin menilai keberagaman gagasan tersebut menunjukkan adanya berbagai pendekatan yang dapat dilakukan generasi muda untuk menjawab persoalan lingkungan.

“Ada yang punya gagasan membuat aplikasi pemantauan kualitas udara, ada juga yang membuat lubang-lubang biopori di daerah rawan kekeringan dan banjir. Termasuk kelompok yang mengembangkan eko enzim dari sampah organik,” katanya. (*)

 

Pos terkait