TPS Eco Green Sukamulya Sulap Limbah Organik Jadi Eco Enzyme, Bisa Pulihkan Air Tercemar

TPS Eco Green Sukamulya Sulap Limbah Organik Jadi Eco Enzyme, Bisa Pulihkan Air Tercemar
Pengelola TPS Eco Green Sukamulya, Aden Lukman Nurhakim usai memanen eco enzyme. Foto (Ist)

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Bagi sebagian orang, kulit buah dan sisa sayuran mungkin hanya berakhir di tempat sampah. Namun di TPS Eco Green Sukamulya Lestari, limbah organik  diolah melalui proses fermentasi selama tiga bulan hingga menjadi eco enzyme.

Eco enzyme merupakan cairan serbaguna yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lingkungan, salah satunya yaitu bisa digunakan untuk memperbaiki kualitas air yang tercemar.

Bacaan Lainnya

Pengelola TPS Eco Green Sukamulya, Aden Lukman Nurhakim menuturkan, ia bersama kelompoknya sudah memproduksi eco enzyme selama satu tahun terakhir. Bahan bakunya pun berasal dari sampah organik yang mudah ditemukan sehari-hari, seperti kulit buah, sisa buah, dan sayuran.

Proses pembuatannya menggunakan campuran bahan organik, gula merah atau molase, dan air, kemudian difermentasi selama kurang lebih tiga bulan.

Setelah matang, cairan eco enzyme dipisahkan dari ampasnya. Tak ada bagian yang dibiarkan terbuang. Cairannya dimanfaatkan untuk kebutuhan lingkungan, sementara ampas buah dan sayuran dapat digunakan sebagai pupuk tanaman maupun pakan maggot.

“Dari sampah kita olah jadi eco enzyme. Eco enzyme-nya bermanfaat untuk lingkungan dan juga tidak menyisakan sampah,” kata Aden, Minggu 6 September 2026.

Eco enzyme yang diproduksi juga telah dimanfaatkan untuk pengolahan air limbah domestik atau grey water. Bahkan, sekitar 200 liter pernah dikirim ke TPA Jatiwaringin untuk membantu pemulihan air lindi setelah terjadi kebakaran.

Bagi Aden, apa yang dilakukan bukan sekadar mengolah sampah. Ada pesan yang ingin dibangun bahwa sampah organik masih memiliki nilai dan dapat dikembalikan manfaatnya kepada lingkungan.

Padahal, jika dijual, eco enzyme memiliki potensi ekonomi. Aden menyebut harga eco enzyme di platform daring dapat berkisar Rp15 ribu hingga Rp30 ribu per liter.

Alih-alih mengejar keuntungan, eco enzyme yang diproduksinya dikembalikan kepada alam. Kini, Aden tengah menyiapkan sekitar 15 ribu liter eco enzyme yang rencananya akan dipanen bertepatan dengan HUT Kabupaten Tangerang dan dimanfaatkan dalam aksi lingkungan di sejumlah sungai.

“Penyalurannya melibatkan komunitas, mulai dari karang taruna hingga komunitas Vespa,” katanya. (*)

Pos terkait