Benyamin Siapkan Pengembangan Homeschooling Untuk Anak Kurang Mampu di Kota Tangsel
SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie berencana mengembangkan sekolah informal berbasis homeschooling guna memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Kota Tangsel.
Menurut Benyamin, saat ini Pemkot Tangsel telah memfasilitasi sekitar 5.000 siswa melalui program bantuan pendidikan dan beasiswa untuk bersekolah di SMP swasta. Ke depan, pemerintah ingin menghadirkan alternatif pendidikan yang lebih fleksibel dan mudah dijangkau masyarakat.
“Saat ini kami sudah memfasilitasi sekitar 5.000 orang yang mendapatkan bantuan pendidikan. Ke depan saya ingin mengembangkan homeschooling atau sekolah informal yang bisa diakses masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID sesuai menghadiri peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Islamic Center Baiturrahmi, BSD, Serpong, Rabu, 24 Juni 2026.
Benyamin menambahkan, konsep sekolah informal tersebut nantinya dapat diselenggarakan di lingkungan masyarakat, seperti tingkat RT, tanpa harus terikat dengan bangunan sekolah formal. Meski demikian, lembaga tersebut tetap memiliki legalitas dan dapat menerbitkan ijazah bagi peserta didik.
“Sekolahnya bisa berada di lingkungan RT, tetapi resmi dan peserta didiknya tetap mendapatkan ijazah. Ini diperuntukkan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu,” tambahnya.
Menurutnya, model homeschooling memungkinkan proses belajar dilakukan dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga lima siswa, sehingga pembelajaran bisa berlangsung lebih fleksibel dan menyesuaikan kebutuhan peserta didik.
“Homeschooling ini tidak harus terikat pada ruang kelas seperti sekolah formal. Jumlah muridnya juga bisa lebih sedikit sehingga proses belajar menjadi lebih efektif,” jelasnya.
Benyamin mengaku, gagasan pengembangan sekolah informal tersebut sejalan dengan berbagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terus dilakukan Pemkot Tangsel. Bahkan, menurutnya, konsep serupa telah mulai diterapkan untuk kelompok masyarakat tertentu.
“Istri saya juga sudah memulai kegiatan sekolah untuk lansia. Jadi konsep pembelajaran berbasis komunitas seperti ini sebenarnya sangat memungkinkan untuk dikembangkan lebih luas,” tuturnya.
Meski demikian, Benyamin mengakui implementasi program tersebut masih memerlukan sejumlah persiapan, mulai dari penyediaan tenaga pendidik hingga penyusunan regulasi yang mendukung pelaksanaannya.
“Kami harus menyiapkan guru, sistem pembelajaran, serta regulasinya terlebih dahulu. Harapannya, semakin banyak masyarakat yang dapat memperoleh akses pendidikan yang layak,” tuturnya. (*)
Reporter : Tri Budi











