10 Ribu Anak Tidak Sekolah Di Kabupaten Serang, Dindikbud Sebut Masih Relatif Rendah

10 Ribu Anak Tidak Sekolah Di Kabupaten Serang, Dindikbud Sebut Masih Relatif Rendah
Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi, menandatangani komitmen bersama penyelenggaraan SPMB, di Pendopo Bupati Serang. Foto Agung Gumelar/Bantenekspres.co.id

SERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang, menyebutkan ada sekitar 10 ribu anak tidak sekolah di Kabupaten Serang, yang mayoritas berada di rentang usia 5 sampai 18 tahun yang berjumlah mencapai 8 ribu orang.

Angka anak tidak sekolah di Kabupaten Serang, masih relatif rendah dibandingkan daerah lain sebab, ada yang sampai 12 ribu hingga 20 ribu anak tidak sekolah di daerah lain.

Bacaan Lainnya

Hal itu disampaikan Kepala Dindikbud Kabupaten Serang Aber Nurhadi, saat diwawancarai wartawan di Pendopo Bupati Serang, beberapa hari lalu.

Aber mengatakan, dari 10 ribu anak tidak sekolah di Kabupaten Serang 8 ribu diantaranya mereka yang rentang usia 5 sampai 18 tahun, sedangkan 2 ribu lainnya mereka tidak sekolah namun belum terdeteksi putus sekolah saat SD, SMP, dan lainnya.

Artinya mereka masih masuk ke dalam data di Dapodik, saat ini sedang dilakukan verifikasi ulang agar datanya lebih akurat.

“Masih nyangkut datanya di Dapodik, apakah dia putus sekolah di SD atau saat di SMP, atau tidak terdata dan juga atau ini residu yang belum dikeluarkan dari Dapodik. Makanya sekarang sedang verifikasi ulang, data-data kesiswaan agar datanya akurat dan valid,” katanya, Minggu 14 Juni 2026.

Kata Aber, jumlah anak tidak sekolah di Kabupaten Serang masih relatif rendah dibandingkan dengan daerah lainnya, ada yang bisa mencapai di atas 12 ribu hingga 20 ribu.

Menurutnya penyebab anak tidak sekolah pada rentang usia 5 sampai 18 tahun, salah satu yang mendominasi yaitu faktor ekonomi

“Dibandingkan daerah lainnya Kabupaten Serang ini terbilang masih relatif lebih rendah angkanya, karena daerah lain ada yang sampai 12 ribu dan 20 ribu. Karena faktor ekonomi menjadi salah satu penyebabnya,” ujarnya.

Aber mengaku, sudah menyediakan jalur bantuan untuk membantu anak yang tidak sekolah salah satunya lewat program beasiswa, supaya semua anak bisa mengeyam pendidikan sampai selesai.

“Jangan malu untuk minta surat keterangan tidak mampu ke RT dan RW, daripada tidak mampu bayar sekolah tinggal melapor saja, kita siapkan bantuan supaya mereka bisa sekolah,” ucapnya.

Aber menyoroti, selain faktor ekonomi ada faktor lainnya penyebab anak tidak sekolah seperti, masalah pribadi, broken home, hingga orang tua yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Penyebab seperti itu yang sering membuat anak malu ke sekolah, yang akhirnya berhenti atau tidak melanjutkan jenjang pendidikannya, dan biasanya di Dapodik belum diubah padahal anaknya sudah tidak sekolah.

“Sehingga datanya masih ada di kita, makanya sekarang sedang disisir, ditargetakan data anak tidak sekolah yang valid bisa ditemukan pada tahun ajaran baru. Karena penting supaya kita bisa intervensi, agar anak bisa kembali bersekolah lagi, karena semua ada solusinya,” tuturnya. (*)

Pos terkait