3 Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pengamat: Daya Beli Masyarakat Bakal Menurun

Kurs Rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS

 

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran di tengah masyarakat. Selain berpotensi meningkatkan harga sejumlah barang, kondisi ini juga dapat memberikan tekanan kepada pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Bacaan Lainnya

Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Tangerang, Muljadi, menilai penguatan dolar AS saat ini dipicu oleh berbagai faktor global, mulai dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga meningkatnya minat investor terhadap aset berbasis dolar.

Namun, menurutnya, dampak yang paling dirasakan masyarakat berada pada sektor riil, terutama bagi usaha yang menggunakan bahan baku impor dalam kegiatan produksinya.

“Ketika dolar naik, biaya impor otomatis ikut meningkat. Akibatnya pelaku usaha harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan bahan baku yang sama,” kata Muljadi, Kamis 4 Juni 2026.

Ia menjelaskan, sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak. Sebab, masih banyak pelaku UMKM yang mengandalkan bahan baku impor, seperti kedelai, kacang-kacangan, maupun komponen pendukung produksi lainnya.

Kenaikan biaya produksi tersebut pada akhirnya dapat berimbas pada harga jual produk kepada konsumen. Jika berlangsung dalam jangka panjang, daya beli masyarakat berpotensi ikut tertekan.

“Pelaku usaha yang selama ini menggunakan bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya. Jika tidak mampu menyerap kenaikan itu, maka harga barang di tingkat konsumen juga bisa naik,” ujarnya.

Selain berdampak pada pelaku usaha, pelemahan rupiah juga memunculkan kekhawatiran psikologis di masyarakat. Penguatan dolar yang terus berlanjut sering kali memicu persepsi bahwa kondisi ekonomi sedang mengalami tekanan, meski indikator ekonomi domestik masih relatif terjaga.

Meski demikian, Muljadi meminta masyarakat tidak panik. Ia menilai pemerintah masih memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk melalui cadangan devisa dan berbagai kebijakan pengendalian ekonomi.

Di tengah tekanan tersebut, ia justru melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor. Nilai tukar dolar yang tinggi dinilai dapat memberikan keuntungan lebih besar bagi eksportir karena penerimaan mereka dalam bentuk dolar menjadi lebih bernilai ketika dikonversi ke rupiah.

“Momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat ekspor nasional. Semakin banyak devisa yang masuk dari ekspor, semakin besar peluang untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Muljadi juga mendorong pemerintah untuk memperkuat penggunaan produk dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap barang impor. Menurutnya, langkah tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi kebutuhan dolar di dalam negeri.

“Sekarang saatnya memperkuat konsumsi produk lokal. Jika ketergantungan terhadap impor berkurang, tekanan terhadap kebutuhan dolar juga bisa ditekan,” katanya. (*)

 

Pos terkait