MAUK, BANTENEKSPRES.CO.ID – Keberhasilan penataan kawasan permukiman nelayan di Kecamatan Mauk menarik perhatian dunia internasional. Sebanyak lima negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, serta dua negara di kawasan Afrika mempelajari langsung model kolaborasi yang dinilai sukses mengubah kawasan kumuh menjadi lingkungan yang lebih tertata dan layak huni.
Kepala Bappeda Kabupaten Tangerang, Erwin Mawandy, mengatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari ketertarikan Habitat Global terhadap hasil kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Habitat for Humanity Indonesia yang selama ini telah berjalan dengan baik.
“Alhamdulillah, hari ini di Kecamatan Mauk kita kedatangan tamu dari Habitat Global. Selama ini kami berkolaborasi dengan Habitat for Humanity Indonesia, dan kolaborasi tersebut dianggap cukup berhasil sehingga menimbulkan ketertarikan dari Habitat Global untuk datang dan belajar langsung,” ujar Erwin kepada Banten Ekspres, Kamis 4 Juni 2026.
Erwin menjelaskan, lima negara tersebut ingin mengetahui faktor utama yang membuat kawasan permukiman nelayan yang sebelumnya tergolong kumuh kini berubah menjadi lebih rapi dan tertata.
Erwin menjelaskan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam proses penataan kawasan.
“Kami sampaikan kepada mereka bahwa kunci suksesnya adalah kolaborasi. Semua pihak berkontribusi, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, Koperasi Mitra Dhuafa, hingga Habitat for Humanity. Dengan kerja sama yang kuat, perubahan kawasan bisa terwujud,” katanya.
Model kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi Habitat Global untuk diterapkan di berbagai wilayah dampingan mereka di negara lain.
Lebih lanjut, Erwin mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama Habitat for Humanity juga telah membahas rencana pengembangan program serupa di kawasan permukiman nelayan lainnya.
Beberapa wilayah yang menjadi prioritas penanganan antara lain Cituis, Karang Serang di Kecamatan Sukadiri, Kronjo, hingga Kemiri. Namun, sebelum pelaksanaan dilakukan, diperlukan survei dan kajian lebih lanjut untuk menentukan lokasi yang paling siap dikerjakan.
“Untuk tahun 2027, kami akan melihat terlebih dahulu hasil survei dan kesiapan masing-masing pihak, baik dari Habitat maupun dari Pemkab Tangerang. Namun kemungkinan besar yang akan menjadi fokus awal adalah kawasan Cituis,” jelasnya.
Kunjungan internasional tersebut, kata Erwin, menjadi bukti bahwa upaya penataan kawasan permukiman nelayan di Kabupaten Tangerang tidak hanya memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat, tetapi juga mendapat pengakuan internasional.
“Tentu ini sebagai prestasi yang membanggakan, apa yang sudah kita kerjakan berbasis kolaborasi sudah dinilai layak untuk dicontoh oleh berbagai negara,” katanya. (*)










