Tingkatkan Kompetensi Guru, SDN Gondrong 4 Dorong Supervisi Akademik Berbasis Coaching

Guru SDN Gondrong 4 mengikuti kegiatan Kombel sahabat berbagi ilmu, bertajuk transformasi kepemimpinan kepala sekolah. Dhuyuf/bantenekspres.co.id.

 

CIPONDOH,BANTENEKSPRES.CO.ID -Komunitas Belajar (Kombel) Sahabat Berbagi Ilmu menggelar seminar bertajuk Transformasi Kepemimpinan Kepala Sekolah di SDN Gondrong 4. Kegiatan ini menjadi wadah berbagi praktik baik dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran melalui penguatan kompetensi guru.

Bacaan Lainnya

Seminar ini mengangkat tema “Upaya Peningkatan Kompetensi Guru dalam Penerapan Pembelajaran Mendalam Melalui Supervisi Akademik Berbasis Coaching di SDN Gondrong 4”. Tema tersebut menyoroti pentingnya peran kepala sekolah dalam mendampingi guru menghadapi perubahan paradigma pendidikan.

Kepala SDN Gondrong 4, Juhairiyah, menjelaskan supervisi akademik perlu dipahami sebagai proses pembinaan yang berorientasi pada pengembangan kapasitas guru, bukan sekadar kegiatan evaluasi.

“Supervisi akademik yang kami lakukan tidak lagi berfokus pada mencari kekurangan guru. Yang kami lakukan adalah mendampingi, menguatkan, dan membantu guru menemukan solusi atas tantangan yang mereka hadapi dalam pembelajaran,” ujarnya, Kamis 4 Juni 2026.

Menurutnya, pendekatan coaching menjadi salah satu strategi efektif untuk mendorong guru lebih reflektif dalam menjalankan tugas profesionalnya di kelas. Melalui pendekatan tersebut, guru diajak mengevaluasi praktik pembelajaran dan menemukan langkah perbaikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

“Melalui coaching, guru diajak berpikir secara mendalam terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan. Mereka menemukan sendiri langkah-langkah perbaikan yang paling sesuai dengan kebutuhan peserta didik,” katanya.

Selain itu, Juhairiyah menegaskan, kepala sekolah harus mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang hadir di tengah-tengah guru sebagai mitra kerja. Peran kepala sekolah, menurutnya, tidak boleh terbatas pada pengelolaan administrasi sekolah.

“Kepala sekolah tidak boleh hanya menjadi pengelola administrasi. Kepala sekolah harus menjadi sahabat belajar bagi guru, mendengarkan kebutuhan mereka, serta memberikan ruang untuk tumbuh dan berkembang bersama,” ungkapnya.

Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, lanjut Juhairiyah, diperlukan budaya sekolah yang terbuka terhadap perubahan dan inovasi. Guru perlu didukung agar berani mengembangkan berbagai pendekatan pembelajaran yang berpusat pada murid.

“Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada guru untuk berkreasi. Karena itu, kepala sekolah harus mampu menciptakan iklim yang mendorong keberanian guru untuk mencoba berbagai pendekatan pembelajaran yang berpihak kepada murid,” jelasnya.

Untuk itu, ia menekankan, peningkatan kompetensi guru harus dilakukan secara berkelanjutan melalui komunitas belajar yang aktif dan kolaboratif. Menurutnya, guru membutuhkan ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan belajar dari praktik baik rekan sejawat.

“Guru tidak bisa berjalan sendiri. Mereka membutuhkan ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan belajar dari praktik baik yang dilakukan rekan sejawat. Di sinilah peran komunitas belajar menjadi sangat penting,” ucapnya.

Lebih lanjut, Juhairiyah menambahkan, keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi yang dibangun seluruh warga sekolah.

Ia berharap hasil seminar dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran sehari-hari sehingga memberikan dampak nyata bagi peserta didik.

“Harapan kami, kegiatan ini tidak berhenti pada diskusi dan berbagi pengalaman saja. Yang paling penting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh dapat diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas,” pungkasnya. (*)

 

Pos terkait