SETU, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) memastikan kebutuhan tenaga pendidik di sekolah negeri masih cukup tinggi meski pemerintah pusat telah menetapkan batas akhir penugasan tenaga honorer hingga 31 Desember 2026.
Saat ini, dari sekitar 6.000 tenaga pendidik dan kependidikan yang bertugas di SD dan SMP negeri se-Kota Tangsel, masih terdapat sekitar 480 tenaga non ASN yang aktif bekerja. Mereka terdiri dari guru, tenaga tata usaha, petugas keamanan hingga office boy (OB).
Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, Pemkot Tangsel tidak memiliki rencana mengurangi jumlah tenaga pendidik. Sebaliknya, kebutuhan guru justru masih cukup besar karena banyaknya guru yang memasuki masa pensiun serta terus bertambahnya jumlah peserta didik setiap tahun.
“Guru itu justru masih kurang. Kami tetap menganggarkan kebutuhan guru, termasuk untuk guru PPPK. Saat ini ada sekitar 480 tenaga yang masih aktif dan kebutuhan tenaga pendidik ke depan masih cukup besar,” ujarnya kepada wartawan, Kamis, 4 Juni 2026.
Menurut Pilar, sebagian tenaga non ASN tersebut masih diperbolehkan bekerja karena masuk dalam kategori Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) sesuai ketentuan yang berlaku.
Ia berharap seluruh program pendidikan yang dijalankan Pemkot Tangsel dapat terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus memastikan seluruh anak usia sekolah memperoleh akses pendidikan yang layak.
Selain membahas kebutuhan tenaga pendidik, Pilar juga menyinggung pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026 yang segera dimulai.
“Insya Allah tahapan pra-pendaftaran dimulai bulan Juni ini. Saya minta seluruh proses berjalan transparan dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Pilar menjelaskan, Pemkot Tangsel telah menyiapkan kuota sekitar 10.000 siswa untuk diterima di SMP negeri. Selain itu, pemerintah juga menyediakan program beasiswa pendidikan bagi sekitar 5.000 siswa yang melanjutkan pendidikan ke SMP swasta.
“Kami bekerja sama dengan hampir 100 SMP swasta. Jadi siswa yang tidak tertampung di sekolah negeri tetap bisa melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa yang disiapkan pemerintah,” jelasnya.
Menurutnya, setiap tahun terdapat sekitar 25.000 lulusan SD di Kota Tangsel yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP. Dari jumlah tersebut, sekitar 12.000 hingga 15.000 siswa mendaftar ke SMP negeri.
Untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan tersebut, Pemkot Tangsel terus menambah kapasitas sekolah negeri melalui pembangunan gedung baru dan peningkatan fasilitas sekolah yang sudah ada.
“Dalam lima tahun ke depan kami menargetkan pembangunan tujuh SMP negeri baru. Tahun ini sudah ada dua sekolah yang sedang dibangun dan rencananya akan ditambah beberapa sekolah lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Tangsel Deden Deni mengatakan, dari sekitar 480 tenaga honorer yang masih aktif, tidak seluruhnya berprofesi sebagai guru.
“Kalau jumlah guru dan tenaga kependidikan di sekolah negeri tingkat SD dan SMP sekitar 6.000 orang. Yang honorer masih ada sekitar 480 orang, tetapi tidak semuanya guru. Ada tenaga kependidikan, tata usaha, petugas keamanan sampai office boy,” ujarnya.
Deden menjelaskan, sebagian tenaga honorer tersebut masih bekerja melalui skema PJLP. Sedangkan sebagian lainnya merupakan tenaga non ASN yang belum masuk formasi PPPK maupun CPNS.
“Yang sekitar 480 orang ini merupakan mereka yang belum masuk PPPK, baik penuh waktu maupun paruh waktu, termasuk yang belum menjadi CPNS,” katanya.
Menurut Deden, tenaga honorer tidak hanya terdapat di lingkungan Dindikbud, tetapi juga tersebar di berbagai organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya seperti Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup.
“Tidak hanya di Dinas Pendidikan, tetapi juga ada di dinas kesehatan, dinas lingkungan hidup, dan OPD lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, sektor pendidikan menjadi salah satu bidang dengan jumlah tenaga honorer terbanyak karena kebutuhan tenaga pengajar dan tenaga pendukung sekolah yang masih tinggi.
“Mayoritas tenaga honorer yang masih aktif usianya juga masih produktif. Bahkan rata-rata usia guru honorer di Tangsel masih di bawah 50 tahun,” tutupnya. (*)










