Kabupaten Tangerang Masih Dibayangi HIV/AIDS, Awal 2026 Ditemukan 143 Kasus Baru

Kabupaten Tangerang Masih Dibayangi HIV/AIDS, Awal 2026 Ditemukan 143 Kasus Baru
Virus HIV/Aids. Foto (Istimewa)

TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kabupaten Tangerang masih dibayangi ancaman penyebaran HIV/AIDS. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 143 kasus baru HIV.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan dari total temuan kasus itu, sebanyak 108 penderita merupakan warga Kabupaten Tangerang, sementara 35 lainnya berasal dari luar daerah atau pendatang.

Bacaan Lainnya

“Untuk dalam wilayah itu warga Kabupaten Tangerang, sedangkan luar wilayah merupakan pendatang,” kata Hendra, Minggu 10 Mei 2026.

Berdasarkan data Dinkes, Kecamatan Cikupa menjadi wilayah dengan jumlah temuan kasus tertinggi selama triwulan pertama 2026, yakni mencapai 10 orang.

Hendra menjelaskan, penyebab dominan penularan HIV masih berasal dari perilaku seks berisiko. Temuan kasus paling banyak berasal dari kelompok populasi LSL serta pasien tuberkulosis (TBC).

“Penyebab paling dominan dari perilaku seks berisiko. Berdasarkan kelompok populasi, dominan ditemukan pada kelompok LSL dan populasi pasien TBC,” ujarnya.

Meski angka kasus terbilang tinggi, Hendra menegaskan kondisi tersebut belum masuk kategori darurat kesehatan seperti pandemi Covid-19. “HIV tidak seperti Covid, jadi tidak darurat,” ucapnya.

Namun demikian, jumlah kasus HIV di Kabupaten Tangerang setiap tahunnya masih cukup besar. Pada tahun 2025 lalu, jumlah temuan kasus HIV mencapai sekitar 500 kasus, dengan hampir separuh penderita berasal dari luar wilayah Kabupaten Tangerang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kesehatan, kata Hendra, terus mengintensifkan langkah pencegahan. Masyarakat diimbau menghindari perilaku berisiko, menggunakan kondom, dan rutin melakukan tes HIV terutama bagi populasi kunci.

Selain itu, Hendra menekankan pentingnya deteksi dini agar penderita dapat segera memperoleh pengobatan antiretroviral (ARV) sehingga tetap bisa hidup sehat dan produktif sekaligus mencegah penularan lebih luas.

“Semakin cepat diketahui jika terinfeksi maka semakin besar peluang pengobatan berhasil dan mencegah penularan,” katanya. (*)

Pos terkait