Menunggu Senja dengan Joran di Tepi Situ Cipondoh

Seorang pemuda memancing di tepian Situ Cipondoh, Kota Tangerang, saat mengisi waktu ngabuburit pada sore hari, Senin 02 Maret 2026. Foto: Najib/Bantenekspres.co.id

CIPONDOH, BANTENEKSPRES.CO.ID – Sore di Situ Cipondoh bergerak pelan. Angin datang bergantian, meniup permukaan air hingga membentuk riak kecil yang memanjang ke tengah. Pepohonan di sekeliling situ tampak rimbun, daunnya bergoyang ringan, menahan sisa panas siang yang belum sepenuhnya hilang.

Di tepian beton yang menghadap langsung ke air, Revaldo duduk dengan santai. Kakinya menjuntai, satu tangan memegang joran sederhana yang ujung senarnya sudah lebih dulu tenggelam. Tak ada peralatan rumit. Hanya umpan, kail, dan kesabaran.

Bacaan Lainnya

Pemuda 28 tahun itu menjadikan memancing sebagai cara mengisi waktu ngabuburit. Bukan baru kali ini ia datang. Situ Cipondoh sudah seperti ruang tunggu yang akrab baginya setiap menjelang waktu berbuka.

Menurutnya, suasana sore di sini berbeda dibanding waktu lain. Tidak terlalu ramai, tapi tetap hidup. Ada yang duduk berdua, ada yang bersepeda pelan di jalur sekitar, ada juga yang sekadar berdiri memandangi air.

Angin yang berembus dari arah situ membuat udara terasa lebih ringan. Bau air yang khas bercampur dengan aroma tanah dan daun basah. Langit perlahan berubah warna, abu kebiruan dengan semburat tipis cahaya yang melembut.

Revaldo tak banyak bicara saat memancing. Pandangannya lebih sering tertuju pada ujung joran. Sesekali ia menarik senar pelan, memastikan umpannya masih di tempat. Gerakannya tenang, tidak tergesa.

“Daripada cuma duduk main HP, mending mancing. Lebih kerasa santainya,” katanya singkat, tanpa mengalihkan perhatian terlalu lama dari air pada Senin, 2 Maret 2026.

Baginya, ngabuburit bukan soal mencari keramaian. Justru momen seperti ini yang ia cari duduk diam, ditemani angin dan suara air yang bergerak pelan. Waktu terasa berjalan tanpa disadari.

Di kejauhan, bangunan panggung terbuka dengan atap melengkung tampak berdiri kokoh di atas tiang-tiang beton. Beberapa orang terlihat duduk di sana, bercakap ringan. Tapi di sudut tempat Revaldo berada, suasananya lebih tenang.

Meskipun sering tidak mendapatkan ikan, menurut ia kenyamanan disaat mancing bukan diukur dari hasilnya.

“Dapet nggak dapet nggak masalah. Nganggur aja orang-orang disini sebenernya,” ujarnya lagi.

Permukaan air sesekali bergetar kecil ketika ikan muncul dan menghilang cepat. Revaldo refleks memperhatikan setiap gerakan itu. Tubuhnya sedikit condong ke depan, lalu kembali santai ketika senar tetap diam.

Pepohonan di sekitar situ menjadi latar yang menenangkan. Rindangnya membuat area tepian terasa teduh. Cahaya sore yang tersaring daun menciptakan bayangan lembut di atas air.

Beberapa anak muda lain terlihat membawa joran juga. Ada yang duduk berkelompok, ada yang sendiri seperti Revaldo. (*)

Reporter: Muhamad Najib

Pos terkait