DLH Pastikan Air Sungai Cisadane Sudah Steril dari Pestisida

Petugas BPBD Kota Tangerang bersama relawan pecinta lingkungan menuangkan cairan ecoenzym ke dalam sungai Cisadane untuk mentralisir racun.

TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID–Pekan lalu air sungai Cisadane sempat tercemar pestisida akibat terbakarnya gudang pupuk di Kota Tangsel. Banyak ikan mati akibat keracunan pestisida. Perusahaan air minum Tirta Benteng Kota Tangerang terpaksa menghentikan pengolahan air, agar pelanggan tidak ikut keracunan.

Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi memaparkan sudah melakukan uji lab kualitas air sungai Cisadane. Hasilnya menunjukkan sudah menunjukkan pemulihan sejak hari kedua pascakejadian. “Dari pengamatan yang kami lakukan, secara kasat mata dan hasil uji, air sungai sudah memenuhi baku mutu sejak hari kedua setelah kejadian di Tangsel. Namun proses sterilisasi dan pemantauan tetap terus kami lakukan hingga saat ini,” kata Wawan.

Bacaan Lainnya

DLH Kota Tangerang juga menyampaikan, percepatan pemulihan kualitas air tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, baik pemerintah, relawan, maupun komunitas peduli lingkungan yang turut membantu penanganan di lapangan.

Sebagai bentuk pengawasan lanjutan, DLH bersama Kementerian Lingkungan Hidup melakukan kegiatan susur sungai untuk memastikan tidak ada lagi sumber pencemar serta memastikan kondisi air tetap stabil.

“Pengawasan akan terus kami lakukan secara berkala. Kami ingin memastikan kualitas air tetap terjaga dan tidak terjadi pencemaran ulang,” tegasnya.

Dengan pulihnya kualitas air sungai Cisadane, diharapkan aktivitas masyarakat yang bergantung pada aliran sungai dapat kembali berjalan normal, sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pemkot Tangerang bergerak cepat menindaklanjuti terdeteksinya dugaan pencemaran pada aliran air baku sungai Cisadane, Senin (9/2) malam. Bersama sejumlah relawan, Pemkot Tangerang menuangkan sebanyak 1.500 liter ekoenzym ke aliran sungai sebagai langkah penanganan awal, Jumat (13/2/26). ekoenzym adalah cairan yang dapat menetralisir racun yang ada di sungai.

Kegiatan ini melibatkan unsur relawan dari PMI, MDMC, Saka Patriot, Universitas UNIS, serta Perguruan BPK PENABUR. Sementara itu, perangkat daerah yang turut terlibat antara lain BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (LH), dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar).

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar menjelaskan, proses penanganan dilakukan dengan metode penyemprotan menggunakan tangki khusus (spray tank) untuk memastikan distribusi ekoenzym merata di titik-titik terdampak.

”Petugas juga menggunakan perahu untuk menjangkau area aliran sungai sekaligus melakukan pengangkatan bangkai hewan dan sampah yang ditemukan di sekitar lokasi,” papar Mahdiar.

Langkah ini merupakan upaya cepat Pemkot Tangerang dalam meminimalisir dampak pencemaran, mengurangi bau tidak sedap, serta membantu proses pemulihan kualitas air secara alami.

”Ekoenzym yang digunakan merupakan larutan hasil fermentasi bahan organik yang ramah lingkungan dan kerap dimanfaatkan untuk membantu mengurai zat pencemar di perairan,” jelasnya. (adv)

Pos terkait