Seratusan Penari dari 15 Sanggar Meriahkan Festival Seni Tari Kreasi di Kota Tangsel

Para penari sedang tampil menari dalam festival seni tari kerasi yang diadakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel di Plaza Rakyat, Balai Kota Tangsel, Rabu, 11 Februari 2026.

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Seratusan penari yang berasal dari 15 sanggar tari di Kota Tangsel ambil bagian dalam Festival Seni Tari Kreasi. Lomba tari dengan tema “Akulturasi budaya Kota Tangsel 2026” tersebut dilaksanakan di Plaza Rakyat, Balai Kota Tangsel, Rabu, 11 Februari 2026.

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Billi Sukarsana mengatakan, Festival Tari merupakan kegiatan rutin lintas pendidikan dan budaya di Kota Tangsel yang dilaksanakan setiap tahun.

Bacaan Lainnya

“Peserta lomba tari ini merupakan siswa-siswi dari berbagai jenjang pendidikan yang ada di Kota Tangsel. Kegiatan dilaksanakan sejak pagi hari dan insya Allah berlangsung hingga sore ini,” ujarnya, Rabu, 11 Februari 2026.

Billi menambahkan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah antusias dan mendukung kegiatan tersebut sehingga dapat berjalan dengan baik.

“Kami juga menyiapkan apresiasi untuk para pemenang. Juara 1, juara 2, dan juara 3 insya Allah akan mendapatkan uang pembinaan dari Pemerintah Kota Tangerang Selatan, piala, serta sertifikat. Termasuk juga untuk juara harapan 1, 2, dan 3,” tambahnya.

Menurutnya, pelaksanaan Festival Tari juga dibantu oleh para juri yang profesional dan berpengalaman dari asosiasi seni tari. “Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap budaya, khususnya budaya di Kota Tangsel. Dan kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut setiap tahunnya,” tutupnya.

Sementara itu, Asisten Daerah (Asda) III Pemkot Tangsel Dandi Pryantara mengatakan, budaya nasional memiliki fungsi penting sebagai pengikat keberagaman suku dan tradisi di Indonesia.

“Budaya nasional menciptakan identitas bersama yang kuat, sekaligus menanamkan nilai toleransi, solidaritas, dan gotong royong. Melalui bahasa Indonesia, batik, serta adat istiadat yang diakui bersama, budaya nasional menyatukan perbedaan dan menumbuhkan rasa kebangsaan di tengah keberagaman,” ujarnya.

Dandi menekankan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal agar tidak tergerus budaya asing. Ia mengajak generasi muda untuk tidak malu mencintai dan mengembangkan budaya lokal.

“Generasi muda harus menjadi agen perubahan dan penerus yang aktif mempelajari, mempraktikkan, serta mempromosikan warisan budaya melalui teknologi digital dan kreativitas modern. Ini penting agar budaya tradisional tetap relevan di era globalisasi,” jelasnya.

Dandi juga menyampaikan bahwa budaya harus terus dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui kegiatan pameran, pariwisata, hingga industri kreatif.

Menurutnya, Kota Tangsel merupakan kota multikultural yang kaya akan keberagaman etnis, budaya, dan agama. Tangsel didominasi perpaduan budaya Betawi, Sunda Banten, serta komunitas Tionghoa, ditambah pendatang dari berbagai daerah sehingga menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis dan inklusif.

“Keberagaman ini terlihat dalam kehidupan sehari-hari, kesenian seperti jaipong, hingga kuliner lokal. Tangsel juga memiliki sejumlah tempat yang merepresentasikan kearifan lokal seperti Rumah Budaya Puspo Budoyo, Kandank Jurank Doank, serta Desa Wisata Keranggan,” ungkapnya.

Dandi menegaskan, menjaga dan melestarikan warisan budaya di Kota Tangerang Selatan merupakan kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat.

“Melestarikan dan mengembangkan budaya bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat, generasi muda, pekerja seni, sanggar seni, dan lembaga seni. Dengan semangat, kita harus mencintai dan merawat kebudayaan sebagai bentuk penghargaan terhadap warisan leluhur,” tuturnya.

Dandi mengaku, pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti festival budaya, sarasehan budaya, penggunaan pakaian daerah, mempelajari tari dan alat musik tradisional, serta menjaga norma adat.

“Festival Seni Tari Kota Tangsel ini diharapkan menjadi salah satu cara melestarikan kebudayaan daerah. Kegiatan ini menjaga eksistensi seni tradisi agar tidak hilang di tengah modernisasi, sekaligus memperkuat identitas dan jati diri masyarakat Tangsel,” tutupnya.

Ditempat yang sama, Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Yana Rodiana mengatakan, peserta festival seni tari kreasi diikuti oleh penari-penari dari 15 sanggar.

“Kriteria umur 12-14 thn. Ini tingkat sanggar untuk melakukan pembinaan kepada sanggar-sanggar di Tangsel,” singkatnya. (*)

Reporter: Tri Budi

Pos terkait