TANGERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Melansir Bantenekspres.co.id, pada 5 Februari lalu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangerang menyatakan telah memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap potensi ancaman Virus Nipah, yang belakangan menjadi perhatian global.
Langkah ini diambil menyusul meningkatnya laporan kasus di sejumlah negara tetangga, sehingga pemerintah daerah menegaskan kesiapsiagaan dalam mendeteksi dan menangani kemungkinan penyebaran virus tersebut.
Lalu, apa sebenarnya Virus Nipah dan mengapa penyakit ini memicu kewaspadaan serius dari otoritas kesehatan?
Secara ilmiah, Virus Nipah termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae dan genus Henipavirus. Inang alaminya adalah kelelawar buah dari genus Pteropus atau yang dikenal sebagai flying fox. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun mampu menularkannya melalui air liur, urin, maupun sisa buah yang telah terkontaminasi.
Penularan ke manusia dapat terjadi melalui beberapa jalur. World Health Organization (WHO) mencatat infeksi Nipah bisa terjadi akibat kontak langsung dengan hewan terinfeksi seperti babi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi cairan tubuh kelelawar, serta melalui penularan antar manusia. Di Bangladesh dan India, konsumsi nira kurma mentah yang terkontaminasi kelelawar menjadi salah satu sumber utama penularan.
Bahaya utama Virus Nipah terletak pada gejalanya yang sering kali tidak spesifik di awal infeksi. Penderita umumnya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun dalam waktu singkat, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan akut serta ensefalitis atau peradangan otak, yang ditandai dengan penurunan kesadaran, kejang, hingga koma.
Tingkat kematian akibat Virus Nipah tergolong sangat tinggi. Data WHO menunjukkan angka fatalitas kasus berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada karakter wabah dan kesiapan sistem kesehatan di wilayah terdampak. Angka ini menjadikan Nipah sebagai salah satu penyakit zoonosis paling mematikan yang pernah tercatat.
Hingga saat ini, belum tersedia obat antivirus khusus maupun vaksin yang disetujui untuk mengobati infeksi Virus Nipah. Penanganan medis bersifat suportif, yakni fokus pada perawatan intensif untuk meredakan gejala dan menjaga fungsi vital pasien. Karena itu, pencegahan menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman virus ini.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menekankan pentingnya pengendalian infeksi, khususnya di fasilitas kesehatan. Penularan antar manusia telah terbukti terjadi, terutama melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien, sehingga tenaga medis wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap.
Di tingkat masyarakat, langkah pencegahan meliputi menghindari konsumsi buah yang telah digigit hewan, tidak mengonsumsi nira mentah, serta menghindari kontak langsung dengan kelelawar maupun hewan ternak yang sakit, terutama di wilayah yang pernah melaporkan kasus Nipah.
Indonesia sendiri hingga kini belum melaporkan kasus Virus Nipah pada manusia. Meski demikian, para ahli menilai kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Indonesia memiliki populasi kelelawar buah yang besar serta ekosistem yang memungkinkan terjadinya kontak manusia dengan satwa liar. Dalam konteks ini, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi sangat relevan.
Virus Nipah menjadi pengingat bahwa ancaman wabah tidak selalu datang dari penyakit yang telah dikenal luas. Di tengah mobilitas global yang tinggi dan interaksi manusia dengan alam yang semakin intens, potensi munculnya penyakit zoonosis akan terus ada. Edukasi berbasis sains, sistem surveilans yang kuat, serta kesadaran masyarakat menjadi benteng utama agar ancaman seperti Virus Nipah tidak berkembang menjadi krisis kesehatan global. (*)











