SMPN 2 Mauk Ingatkan Siswa Bahaya Love Scamming

SMPN 2 Mauk, mengingatkan siswa terhadap bahaya love scamming agar tidak menjadi korban karena sangat bahaya bagi pelajar khususnya pelajar wanita. Randy/Bantenekspres.co.id

MAUK,BANTENEKSPRES.CO.ID – SMPN 2 Mauk secara tegas mengingatkan seluruh siswa untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya love scamming, salah satu bentuk kejahatan digital yang kini semakin marak dan menyasar kalangan remaja, khususnya siswa perempuan.

Melalui berbagai imbauan dan pembinaan, pihak sekolah meminta siswa agar tidak lengah dalam menggunakan internet dan media sosial. Apalagi, saat ini akses digital sangat mudah digunakan oleh siapapun dan baik dari kalangan manapun.

Bacaan Lainnya

Kepala SMPN 2 Mauk Rohimat menegaskan, bahwa kemajuan teknologi dan akses digital yang mudah harus diiringi dengan kemampuan literasi digital yang kuat. Menurutnya, siswa yang masih berada pada usia remaja sangat rentan dimanipulasi oleh pelaku kejahatan dengan modus pendekatan emosional.

“Pelaku love scamming ini biasanya sangat rapi dalam menjalankan aksinya. Mereka masuk melalui media sosial, membangun komunikasi intens, lalu memainkan perasaan korban,” ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Rabu 4 Febuari 2026.

Ia menilai, siswa perempuan kerap menjadi sasaran utama, karena dianggap lebih mudah dibujuk dengan perhatian, empati, dan janji-janji manis yang sebenarnya palsu. Kondisi ini, kata dia, harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, baik sekolah maupun orang tua.

“Kami selalu mengingatkan, terutama kepada siswa perempuan, agar tidak mudah percaya kepada orang asing di dunia maya. Jangan sampai karena rasa ingin diperhatikan, siswa justru terjebak dalam kejahatan digital,” tegasnya.

Rohimat menjelaskan, SMPN 2 Mauk secara konsisten memberikan edukasi kepada siswa mengenai etika dan keamanan bermedia sosial. Imbauan tersebut disampaikan melalui kegiatan pembinaan karakter, pengarahan saat upacara, serta melalui guru Bimbingan dan Konseling (BK).

“Sekolah tidak tinggal diam. Kami terus memberikan pemahaman bahwa media sosial bukan tempat untuk membuka data pribadi, apalagi membangun hubungan dengan orang yang tidak jelas latar belakangnya,” katanya.

Ia menambahkan, dampak dari love scamming tidak hanya kerugian materi, tetapi juga dapat menimbulkan trauma psikologis, menurunkan kepercayaan diri, hingga mengganggu konsentrasi belajar siswa.

“Korban love scamming itu bukan hanya kehilangan uang. Ada yang kehilangan rasa percaya diri, ada yang merasa takut, bahkan prestasi belajarnya menurun. Ini yang kami ingin cegah sejak dini,” paparnya.

Selain itu, Rohimat menekankan pentingnya sikap bijak dalam menggunakan internet dan media sosial. Menurutnya, teknologi digital seharusnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar dan pengembangan diri, bukan sebaliknya menjadi pintu masuk kejahatan.

“Kami selalu menekankan kepada siswa, gunakan internet untuk hal-hal positif, untuk belajar, mencari informasi yang bermanfaat, dan mengembangkan potensi diri. Jangan gunakan media sosial secara berlebihan dan tanpa kontrol,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan, siswa agar tidak mudah tergiur dengan ajakan, hadiah, atau tawaran mencurigakan yang datang dari orang tidak dikenal, meskipun disampaikan dengan bahasa yang sopan dan meyakinkan.

“Kalau ada yang menawarkan sesuatu yang terlalu indah untuk dipercaya, itu patut dicurigai. Jangan ragu untuk menolak dan segera melapor,” katanya.

Lebih jauh, Rohimat menegaskan bahwa peran orang tua sangat penting dalam mengawasi aktivitas digital anak di rumah. Sinergi antara sekolah dan keluarga dinilai menjadi kunci utama dalam melindungi siswa dari ancaman kejahatan siber.

“Kami berharap orang tua juga ikut mengawasi penggunaan gawai anak di rumah. Pengawasan dan komunikasi yang baik akan membuat anak merasa aman dan tidak mencari pelarian di dunia maya,” tutupnya. (*)

Reporter: Randy Yastiawan

Pos terkait