PAMULANG,BANTENEKSPRES.CO.ID-Forum Komunikasi Bank Sampah Kelurahan Pamulang Timur kembali menggelar kegiatan rutin bulanan berupa silaturahmi dan komunikasi antar pengelola bank sampah. Pada kegiatan kali ini, forum mengadakan pelatihan budidaya maggot yang diikuti oleh seluruh pengurus bank sampah di wilayah tersebut.
Pelatihan yang diadakan di Aula Kantor Kelurahan Pamulang Timur, Rabu, 28 Januari 2026 tersebut diikuti oleh puluhan pengurus bank sambah. Diketahui maggot mampu menguraikan sampah organik dengan cepat, sehingga dapat mengurangi volume sampah yang mencemari lingkungan.
Dalam pelatihan ini, peserta diperkenalkan dengan teknik dasar budidaya maggot yang meliputi persiapan wadah, pemilihan bibit maggot dan pemberian pakan berupa sampah organik rumah tangga seperti sisa sayuran, buah-buahan serta makanan.
Lurah Pamulang Timur Ade Heri Sutiawan mengatakan, di Kelurahan Pamulang Timur terdapat 28 RW, dan saat ini bank sampah telah terbentuk di 24 RW. Sementara itu, masih terdapat empat RW yang belum terselesaikan pembentukannya.
“Kondisi ini disebabkan karena pada beberapa RW terdapat lebih dari satu bank sampah, bahkan ada RW yang memiliki hingga tiga bank sampah,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Rabu, 28 Januari 2026.
Ade menambahkan, pelatihan budidaya maggot ini bukan pertama kali dilaksanakan. Tahun sebelumnya, kegiatan serupa juga telah digelar. Namun, melihat kondisi darurat sampah di Kota Tangsel, pelatihan kembali dilakukan sebagai upaya konkret mengurangi sampah rumah tangga dari sumbernya.
“Budidaya maggot ini fokus pada penguraian sampah organik rumah tangga, seperti sisa nasi dan sayur-mayur. Daripada dibuang, sampah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai pakan maggot,” tambahnya.
Menurutnya, pelatihan tersebut menghadirkan narasumber dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel serta praktisi budidaya magot. Menurutnya, budidaya maggot tergolong mudah jika dilakukan dengan konsisten.
“Kalau memang fokus, budidaya maggot itu relatif mudah. Maggot memakan sisa-sisa sampah rumah tangga, dan itu tersedia setiap hari,” jelasnya.
Selain berfungsi sebagai pengurai sampah, maggot juga memiliki nilai ekonomi tinggi. Maggot dimanfaatkan sebagai pakan ikan, ternak ayam dan bebek, umpan ikan, bahkan bahan baku industri tertentu.
“Saat ini, sudah terdapat 5 bank sampah di Pamulang Timur yang berhasil menghasilkan maggot secara ekonomis. Salah satunya berada di RW 13 yang mampu menghabiskan hingga 25 kilogram sampah organik,” ungkapnya.
Penyuka olahraga bulutangkis ini menuturkan, untuk nilai jual maggot hidup dapat dihargai sekitar Rp40 ribu per kilogram, sedangkan magot kering atau yang telah diolah bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram.
“Proteinnya sangat tinggi, jadi sangat baik untuk pakan ternak. Selain mengurangi sampah, ini juga menambah penghasilan masyarakat,” tuturnya.
“Dengan adanya pemilahan sampah dari rumah tangga antara sampah yang masuk bank sampah, maggot, dan residu volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir diharapkan dapat berkurang secara signifikan,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel Pilar Saga Ichsan mengatakan, saat ini pihaknya mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi penggunaan botol plastik. Bukan berarti benar-benar dilarang, tapi kita kurangi.
“Kalau terpaksa masih tidak apa-apa, namun kalau bisa, mari kita mulai menghindarinya. Termasuk juga penggunaan dus atau kemasan sekali pakai, karena itu semua pada akhirnya tetap menimbulkan sampah baru,” ujarnya.
Pilar menambahkan, saat ini penyajian dalam setiap kegiatan sudah mulai menggunakan piring, bukan lagi kemasan sekali pakai. Program ini sudah berjalan di seluruh OPD dan juga kelurahan.
“Saya yakin pengurus bank sampah sudah sangat paham soal pemilahan sampah. Nah, sekarang kita naik level. Bukan hanya memilah sampah, tapi bagaimana menggerakkan ekonomi sirkular dengan biaya yang murah, bahkan hampir tanpa biaya, tapi bisa menghasilkan. Salah satunya melalui budidaya maggot,” tambahnya.
Pilar mengaku, secara pribadi saat ini dirinya masih di tahap pemilahan dan biopori. Dirinya belum sampai menjadi penggerak maggot tapi ke depan ingin belajar.
“Walaupun hari ini saya belum punya waktu yang cukup, insya Allah nanti saya ingin khusus soal maggot, bahkan mungkin belajar secara privat bersama istri saya, supaya di lingkungan RW saya sendiri, sampah benar-benar bisa diberdayakan,” ungkapnya.
Bapak satu anak ini mengaku, yang menarik dari maggot ini adalah pakannya gratis. Kita tidak perlu beli, pakannya berasal dari sampah rumah tangga kita sendiri. Yang tadinya sisa makanan kita buang ke biopori, sekarang bisa kita manfaatkan untuk maggot.
“Tinggal nanti kita belajar lebih dalam, bagaimana cara pengolahan pakannya, bagaimana supaya maggotnya tumbuh optimal,” tuturnya.
Selanjutnya yang harus dipikirkan adalah setelah maggot jadi, siapa yang akan membeli. Apakah untuk pakan ikan, lele, unggas, atau kebutuhan peternakan dan pertanian lainnya.
“Hasil dari budidaya maggot tidak bisa instan dan bisa 2-3 bulan kemudian baru bisa dirasakan. Kalau ini dimulai dari sekarang maka akan menjadi kebiasaan kita,” tutupnya. (*)









