SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kecamatan Cikande, memiliki empat kawasan perumahan besar yaitu perumahan Cikande Permai, Griya Asri, Senopati, dan Puri.
Keempat perumahan ini, perharinya menghasilkan kurang lebih 50 ton sampah namun tidak bisa dibuang, lantaran tidak ada tempat pembuangan sampahnya yang akhirnya terjadi penumpukan sampah dibeberapa titik.
Seperti di Jalan Raya Patikus, Kecamatan Cikande, terdapat penumpukan sampah yang berserakan dipinggiran jalannya, bahkan sampah ini tumpah ke jalanan yang membuat pengguna jalan merasa resah.
Anggota DPRD Kabupaten Serang Dapil Cikande Joko Santoso mengatakan, Kabupaten Serang kini mengalami darurat sampah, dengan penyebabnya tidak memiliki tempat pembuangan sampah, yang membuat banyak terjadi penumpukan sampah dimana-mana.
Terutama di wilayah perumahan, Kecamatan Cikande, dengan empat perumahan besar yang dalam satu hari bisa menghasilkan sampah sekitar 50 ton.
“Sekarang ini kita lagi darurat sampah, masalah utamanya Kabupaten Serang tidak punya tempat pembuangan sampah, meskipun ada rencana PSEL namun jangka waktu yang sangat lama. Terlebih di Cikande, punya empat perusahaan besar yang setiap harinya menghasilkan 50 ton sampah, dan sampah ini tidak bisa buang,” katanya, Senin 3 November 2025.
Kata Joko, seluruh akses pembuangan sampah di Kabupaten Serang ditutup seperti, kerjasama buang sampah ke Pandeglang, Cilegon, Lebak, dan Kota Serang, dihentikan sudah tidak bisa buang sampah lagi.
Kesulitan buang sampah ini, bukan terjadi dalam beberapa tahun terakhir melainkan, semenjak TPA Cilowong diserahkan ke Pemkot Serang, Pemkab Serang tidak pernah berhasil membangun TPA baru sampai sekarang.
“Semenjak Cilowong diserahkan, Pemkab Serang ini tidak bisa lagi sama sekali untuk mendapatkan TPA baru. Imbasnya, penumpukan sampah ada dimana-mana tidak bisa dibuang seluruh akses ditutup, masyarakat teriak soal sampah ini kapan bisa teratasi,” ujarnya.
Dikatakan Joko, Pemkab Serang harusnya saat ini membuat sesuatu pemikiran yang out of the box, bukan yang jangan panjang namun jangan pendek untuk menyelesaikan masalah sampah.
Jangan hanya mengandalkan rencana pembangunan PSEL, yang belum dapat dipastikan kapan terbangun, karena kini Pemkab Serang masih mencari-cari lahannya.
“Kalau menurut saya, Pemkab Serang harus membuat sesuatu pemikiran untuk penyelesaian sampah dalam waktu singkat yang dimulai dari hulu. Sekarang masyarakat sudah mulai berteriak, saya harap Pemkab Serang benar-benar konsen, karena sampah ini bukan sesuatu hal yang bisa ditahan namun harus dibuang biar tidak menumpuk,” ucapnya.
Joko mengatakan, di kawasan perumahan tidak mempunyai lahan besar untuk menampung sampah, kalaupun ada dan cara penyelesaiannya dibakar tentunya akan terjadi gejolak sosial karena jarak rumah ke rumah itu berdekatan.
Sehingga, dirinya berharap Pemkab Serang harus benar-benar memikirkan bagaimana mengurai atau menghabiskan sampah, tanpa berpikir dulu perihal rencana PSEL yang jangka panjang.
“Pemerintah harus membuat road map atau blueprint waktu sampah jangan pendek tidak perlu TPA dulu, lalu armadanya juga diperhatikan. Masalah sampah ini sangat krusial, yang harus diselesaikan dengan cepat,” tuturnya. (*)
Reporter : Agung Gumelar










