SERANG – Kisah pilu datang dari Ibu Dar’ah, seorang lansia berusia sekitar 90 tahun di Kampung Keluncing, Kelurahan Kasemen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Sehari-hari, ia masih bekerja sebagai pemulung untuk menyambung hidup. Meski masuk kategori miskin dan berusia lanjut, Ibu Dar’ah sudah beberapa tahun terakhir tak lagi menerima bantuan sosial dari pemerintah.
Putrinya, Ibu Naimah, menceritakan bahwa ibunya terakhir kali menerima bantuan sosial pada 2021. Bantuan yang awalnya berupa sembako itu kemudian dialihkan menjadi uang tunai.
“Dulu emang pernah sekali dapat, sampai sekarang belum pernah dapat lagi. Dari tahun 2021 pernah dapat, setelah itu enggak pernah lagi. Alasannya saya enggak tahu, mungkin dari sananya. Pengennya kalau bisa dapat bantuan lagi, kasian orang tua saya sudah sepuh,” kata Naimah saat ditemui oleh wartawan Tangerang Ekspres, Senin 15 September 2025.
Hal serupa disampaikan Martin, Ketua RT 01 RW 011 Kampung Keluncing. Menurutnya, Ibu Dar’ah sempat mendapat bantuan BPNT berupa sembako, kemudian sekali dalam bentuk uang lebih dari Rp1 juta. Namun, sejak itu ia tidak pernah menerima lagi.
“Memang awalnya sempat dapat bantuan, tapi hanya sekali itu. Setelahnya enggak tahu kenapa sudah tidak keluar lagi. Setelah saya konfirmasi ke Dinas Sosial dan juga ke pendamping, alasannya administrasi. Tapi sampai sekarang pun belum keluar juga,” ujar Martin.
Martin menambahkan, alasan yang disampaikan pihak pendamping adalah masalah administrasi, khususnya terkait Nomor Induk Kependudukan (NIK). Namun, penjelasan detail mengenai persoalan tersebut tidak pernah diterima pihak keluarga maupun RT.
“Alasannya administrasi di NIK, tapi secara spesifiknya saya juga enggak tahu. Pertama kali dapat itu tahun 2021, setelah itu sudah enggak pernah lagi. Enggak ada penjelasan apa pun, tiba-tiba enggak dapat saja,” jelasnya.
Padahal, kondisi ekonomi Ibu Dar’ah sangat memprihatinkan. Di usia senjanya, ia masih harus mengais barang bekas untuk dijual. Anak-anaknya pun hidup dalam keterbatasan, sehingga sulit menopang kebutuhan sehari-hari.
Sebagai ketua RT, Martin mengaku sudah berulang kali berupaya agar Ibu Dar’ah kembali terdaftar sebagai penerima bansos. Bahkan, ia sendiri yang menguruskan KTP dan mengantarkan Ibu Dar’ah saat pembagian kartu bantuan.
“Harapan saya mudah-mudahan Dinas Sosial bisa memperhatikan Ibu Dar’ah. Usianya sudah lanjut, keadaan ekonominya seperti ini, anak-anaknya pun hidup pas-pasan. Kalau pun tidak dalam bentuk uang, paling tidak dalam bentuk sembako lah. Itu sudah sangat membantu,” ucap Martin.
Menurutnya, pihak kecamatan maupun Dinsos pernah melakukan survei ke rumah Ibu Dar’ah. Namun, hingga kini tidak ada tindak lanjut nyata.
“Dinsos pernah sekali nyurvei, kalau dari kecamatan malah sering. Tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut. Padahal jelas kondisinya sangat layak untuk mendapat bantuan,” katanya.
Kasus Ibu Dar’ah mencerminkan masih adanya ketidakmerataan dalam penyaluran bantuan sosial di Kota Serang. Meski pemerintah daerah menyebut telah menyalurkan ribuan paket sembako dan bantuan tunai untuk menekan angka kemiskinan ekstrem, kenyataannya masih ada lansia kurang mampu yang terlewat dari daftar penerima.
Warga setempat berharap pemerintah lebih serius dalam melakukan validasi data dan tidak hanya mengandalkan sistem administratif semata. “Kalau bicara kemiskinan ekstrem, ya ini contohnya. Lansia, pemulung, hidupnya susah, tapi enggak dapat bantuan. Semoga ada perhatian lebih,” pungkas Martin. (*)
Reporter: Aldi Alpian Indra











