RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Isu krisis guru di sekolah dasar kembali mencuat di wilayah Kabupaten Tangerang, khususnya di Kecamatan Rajeg.
Menanggapi hal tersebut, Pengawas SD Kecamatan Rajeg pada Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Iva Budi Sopyani membeberkan akar permasalahan serta solusi taktis yang diterapkan untuk menjaga kualitas kegiatan belajar mengajar (KBM).
Iva Budi Sopyani menjelaskan, persoalan di lapangan tidak selalu murni kekurangan tenaga pendidik secara total, melainkan masalah ketidaktepatan dalam pemetaan dan distribusi guru.
“Sebetulnya di sekolah jumlah gurunya cukup, bahkan lebih. Cuman penempatannya yang kurang pas,” ujar Iva saat ditemui, Selasa, 3 November 2026.
Sebagai contoh, ia menyebut SDN Sukatani 1 mengalami krisis nyata akibat beberapa guru yang memasuki masa pensiun.
Sementara itu, sejumlah sekolah lain justru mengalami surplus guru, namun sulit digeser karena terbentur regulasi kepegawaian, khususnya status pegawai seperti Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang belum fleksibel untuk melakukan perpindahan tugas lintas instansi dalam waktu singkat.
Untuk menyikapi keterbatasan regulasi pengangkatan guru baru, pihak pengawas bersama dinas terkait mengambil langkah taktis dengan memberdayakan tenaga pendidik yang ada secara optimal.
“Solusi sementara ini, kami memberdayakan guru yang ada saja. Guru mata pelajaran kita berdayakan untuk merangkap sebagai guru kelas, sementara yang guru kelasnya belum ada,” jelas Iva.
Langkah ini dilakukan agar setiap rombongan belajar (rombel) tetap mendapatkan pendampingan maksimal dari guru meskipun dalam kondisi tidak ideal.
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang juga terus berupaya melakukan pemetaan berkala, termasuk mendorong pemerataan melalui pengangkatan guru paruh waktu dan P3K.
Persoalan krisis guru ini juga tidak lepas dari aturan baru terkait pembatasan jumlah siswa per kelas demi kenyamanan proses belajar mengajar.
Idealnya, satu rombongan belajar diisi maksimal 32 siswa dengan rasio satu guru mengampu satu rombel.
Namun, ketika sekolah hanya mampu menampung sedikit guru sementara jumlah pendaftar membludak hingga ratusan siswa yang tertolak, pihak sekolah dituntut untuk mencari solusi adaptif.
Menurut Iva, kesadaran masyarakat di Kecamatan Rajeg kini sudah semakin baik dalam memahami aturan tersebut.
Jika suatu sekolah negeri terbatas kapasitas gurunya, orang tua secara bijak mulai melirik sekolah swasta alternatif yang kini mutunya juga didukung oleh subsidi pemerintah.
Di akhir wawancara, Iva Budi Sopyani berharap dunia pendidikan di Kecamatan Rajeg semakin solid, kompak dan tertata dengan baik, khususnya dalam hal akurasi pemetaan tenaga pendidik.
“Harapannya Kecamatan Rajeg semakin solid dan tertata, terutama dalam pemetaan guru yang merupakan bagian dari tanggung jawab saya untuk menyiapkan tenaga pendidik dan kependidikan,” pungkasnya. (*)










