Abu Vulkanik Anak Krakatau Ancam Pernapasan, Dinkes Kota Tangsel Ingatkan Risiko ISPA

Kantor Dinas Kesehatan Kota Tangsel. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tangsel memberikan penjelasan terkait tingginya angka Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang tercatat dalam Bulletin Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).

Kepala Dinkes Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, tercatat sebanyak 124.688 kasus ISPA secara kumulatif hingga minggu epidemiologi ke-30 tahun 2026 atau sampai 13 Agustus 2026.

Bacaan Lainnya

Angka tersebut merupakan akumulasi kasus sejak minggu pertama hingga minggu ke-30, bukan jumlah kasus yang terjadi dalam satu minggu. “Sementara khusus pada minggu epidemiologi ke-34 (M-34), tercatat 4.844 kasus,” ujarnya, Selasa, 8 September 2026.

Allin menambahkan, SKDR digunakan untuk memantau perkembangan penyakit setiap minggu sekaligus mendeteksi secara dini adanya peningkatan kasus yang berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Data tersebut kemudian dianalisis sebagai dasar dalam menentukan langkah kewaspadaan, investigasi, dan respons kesehatan masyarakat.
“ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan dan dapat disebabkan oleh virus maupun bakteri,” tambahnya.

Risiko ISPA juga dapat meningkat akibat paparan asap rokok, debu dan polusi udara, ventilasi yang buruk, serta lingkungan yang padat. “Gejala yang umum antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, dan lemas,” jelasnya.

Sementara itu, terkait penyebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tangsel Fitria Oriza mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan.

Fitria mengatakan, abu vulkanik tersebut mengandung silika. Jika dilihat melalui mikroskop, partikel silika memiliki bentuk menyerupai pecahan kaca sehingga berpotensi melukai jaringan saluran pernapasan.

“Abu tersebut bila masuk ke saluran hidung bisa melukai jaringan-jaringan pernapasan. Sehingga walaupun abu vulkaniknya tidak terlalu banyak, kita tetap sangat khawatir terhadap kondisi tersebut,” ujarnya.

Fitria menambahkan, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan maupun mata. Jika partikel abu masuk ke saluran pernapasan tanpa perlindungan, dapat menimbulkan luka-luka kecil atau mikrolesi yang kemudian berpotensi memicu infeksi.

“Dampak dari abu vulkanik ini bisa menyebabkan iritasi, baik pada pernapasan hingga menimbulkan Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA maupun pada mata,” tambahnya.

Ia juga mengimbau masyarakat tidak mengucek mata apabila terkena abu vulkanik atau mengalami kelilipan. Sebagai gantinya, mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air mengalir agar partikel silika terlepas tanpa melukai kornea.

“Kalau dikucek saat kelilipan, itu bisa menyebabkan baret pada kornea dan memicu iritasi mata yang cukup parah,” jelasnya.

Untuk mencegah penularan ISPA sekaligus mengurangi risiko paparan abu vulkanik, masyarakat diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sakit atau berada di lingkungan berdebu, menjaga ventilasi dan sirkulasi udara, serta menghindari asap rokok dan polusi udara.

Masyarakat yang mengalami gejala ISPA juga dianjurkan beristirahat dan membatasi aktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko penularan.
Apabila muncul gejala berat seperti sesak napas, demam tinggi atau berkepanjangan, lemas berat, maupun kondisi yang semakin memburuk, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

“Kewaspadaan terutama perlu ditingkatkan terhadap bayi dan balita, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta karena memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi, termasuk pneumonia,” tuturnya.

Dinkes Kota Tangsel terus melakukan pemantauan melalui SKDR sebagai bagian dari upaya kewaspadaan dini, pencegahan, dan respons terhadap penyakit di masyarakat. (*)

Pos terkait