TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Suasana sepi tampak di bagian atas Pasar Gudang Tigaraksa. Deretan lapak pakaian, sandal, dan barang kebutuhan lainnya terlihat minim aktivitas. Bukan hanya pembeli yang jarang datang, pedagang yang membuka lapak pun semakin sedikit.
Kondisi tersebut dirasakan Udin, salah seorang pedagang lama di Pasar Gudang Tigaraksa. Ia mengaku tetap berjualan meski hampir setiap hari harus menghadapi suasana pasar yang lengang.
“Iya, tiap hari kayak gini. Sepi, jarang pengunjung,” ujar Udin saat diwawancarai Banten Ekspres, Selasa 1 September 2026.
Udin menilai salah satu penyebabnya adalah pola belanja masyarakat yang berubah. Pengunjung yang datang ke pasar cenderung hanya berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti sayuran, ikan, dan sembako yang berada di bagian bawah pasar.
Sementara lapak pedagang pakaian dan sandal yang berada di lantai atas lebih banyak didatangi jika masyarakat memang memiliki kebutuhan khusus.
“Kalau bukan keperluan mau beli pakaian atau sandal, enggak ada yang naik. Jadi sepi. Jangankan yang belanja, yang lewat juga kayak gini,” katanya.
Sepinya pengunjung turut berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang. Udin menyebut, dalam kondisi tertentu, dirinya bahkan tidak mendapatkan pembeli sama sekali dalam satu hari.
“Kadang-kadang nol. Nol mah kebanyakan,” ujarnya.
Kondisi itu, kata dia, bukan hanya berlangsung beberapa hari. Sepinya aktivitas perdagangan telah dirasakan selama berbulan-bulan dan semakin sulit sejak pandemi Covid-19.
“Semenjak COVID juga sudah mulai kayak gini. Makin ke sininya makin terpuruk. Mungkin pengaruh online juga bisa, kesulitan ekonomi juga,” tutur Udin.
Selain itu, perkembangan belanja secara daring turut mengubah kebiasaan masyarakat. Daya beli yang menurun membuat masyarakat semakin selektif dalam berbelanja dan hanya membeli barang.
Dampaknya, saat ini banyak pedagang yang gulung tikar dan beralih ke tempat lain.
“Pasar-pasarnya banyak yang tutup sekarang. Biasanya ada yang buka, sekarang sudah pada nyerah,” katanya.
Meski demikian, Udin memilih tetap bertahan karena belum memiliki pekerjaan atau usaha lain yang bisa menjadi sumber penghasilan utama.
“Ya karena enggak ada pekerjaan lain. Bertahan aja sambil main-main ke sini,” katanya.
Dalam kondisi pasar seperti sekarang, kata dia, biaya operasional bahkan kerap harus diambil dari uang pribadi. Untuk ongkos perjalanan dan kebutuhan lainnya, Udin mengaku tidak bisa lagi mengandalkan hasil penjualan.
“Kalau ngandelin dari penjualan mah ya enggak ada untungnya. Tetap ngambil dari pribadi, dari kantong sendiri,” ungkapnya. (*)











