SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kota Tangsel mengalami peningkatan setelah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
Berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan (Dinkes) Tangsel, kasus ISPA pada pekan ke-35 mencapai 5.802 kasus. Angka tersebut meningkat 19,8 persen dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebanyak 4.844 kasus.
Meski demikian, Dinkes Kota Tangsel belum dapat memastikan peningkatan kasus tersebut berkaitan langsung dengan paparan abu vulkanik.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, tren peningkatan kasus ISPA sebenarnya telah terlihat sebelum terjadinya sebaran abu vulkanik GAK.
“Namun, peningkatan ini belum dapat disimpulkan secara langsung sebagai dampak paparan abu vulkanik, karena tren ISPA telah menunjukkan peningkatan sebelum kejadian dan dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk perubahan cuaca dan kualitas udara,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Senin, 14 September 2026.
Allin menambahkan, secara kumulatif sepanjang Minggu ke-1 hingga ke-35 tahun 2026, Dinkes Kota Tangsel mencatat 148.370 kasus ISPA. Kecamatan Serpong menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 38.366 kasus.
Selanjutnya, kasus ISPA tercatat di Kecamatan Pamulang sebanyak 27.293 kasus, Ciputat 26.895 kasus, Pondok Aren 22.170 kasus, Ciputat Timur 19.694 kasus, Setu 8.637 kasus, dan Serpong Utara 5.315 kasus.
“Data ini menjadi dasar bagi Dinkes untuk memantau perkembangan kasus sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan perhatian lebih lanjut,” tambahnya.
Allin menjelaskan, paparan abu vulkanik tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan sejumlah gangguan kesehatan. Berdasarkan Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor KL.01.02/A/17765/2026, abu vulkanik dapat mengiritasi hidung dan tenggorokan, memicu batuk, mengi, rasa berat di dada hingga sesak napas.
Paparan abu juga berpotensi memperburuk kondisi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan penyakit paru lainnya. “Selain gangguan pernapasan, abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata dan kulit serta berpotensi mencemari air dan pangan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Tangsel Fitria Oriza mengatakan, pihaknya terus melakukan surveilans untuk mengetahui perkembangan kasus ISPA di masyarakat.
Pemantauan dilakukan melalui analisis tren berdasarkan waktu dan wilayah, kesiapsiagaan puskesmas dan rumah sakit, serta koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan instansi terkait untuk memantau kualitas udara, khususnya kadar PM2,5 dan PM10.
“Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja luar ruangan, serta masyarakat dengan asma, PPOK, penyakit paru dan penyakit kronis lainnya menjadi perhatian khusus,” ujarnya.
Fitria mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara berdebu. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta menggunakan masker, sekaligus melindungi mata dan kulit.
Masyarakat juga diminta menjaga sumber air dan makanan tetap tertutup serta tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka.
“Apabila mengalami batuk terus-menerus, sesak napas, nyeri dada, mata merah atau nyeri, maupun keluhan yang semakin berat, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke Puskesmas, rumah sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” tambahnya.
Dinkes Kota Tangsel memastikan pemantauan kesehatan masyarakat akan terus dilakukan. Perkembangan kasus nantinya disampaikan berdasarkan hasil surveilans, kondisi kualitas udara, dan analisis epidemiologis secara berkala. (*)










