PADARINCANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Citasuk, di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, kini sudah beroperasi kembali yang sebelum sempat disuspend Badan Gizi Nasional (BGN) selama tiga bulan.
Disuspendnya SPPG Citasuk ini karena adanya dugaan keracunan yang dialami siswa beberapa waktu lalu, yang membuatnya tidak melayani Makan Bergizi Gratis (MBG) ke penerima manfaat.
Mengetahui sudah beroperasi, Ketua Satgas Pengawasan SPPG Kabupaten Serang Najib Hamas, melakukan pemantauan langsung ke SPPG Citasuk, Kecamatan Padarincang, Senin 31 Agustus 226.
Najib meminta, SPPG Citasuk dapat kembali untuk meningkatkan pelayanan kepada penerima manfaat MBG, serta menjaga Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah ditetapkan supaya tidak kembali dikenakan suspend lagi.
“Saya sudah tiga kali ke SPPG Citasuk ini, saat ini sudah beroperasi lagi kembali melayani penerima manfaat sejak awal Agustus, saya minta tetap jaga SOP nya supaya tidak lagi suspend,” katanya kepada wartawan di lokasi kunjungan.
Dikatakan Najib, saat ini masih ada dua SPPG lagi di Kabupaten Serang yang masih disuspend, dan belum memperbaiki kesalahannya, maka pihaknya kini sedang melakukan pemetaan, pengawasan secara optimal.
“Masih ada yang disuspend, kita lakukan pengawasan supaya mereka cepat selesaikannya, kita pastikan semua dapur MBG di Kabupaten Serang bisa 100 persen operasional dan melayani masyarakat dan kita harapkan tidak ada lagi yang disuspend,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Citasuk Muhamad Harun Hadiatna mengatakan, SPPG nya sudah kembali beroperasi sejak 18 Agustus kemarin, karena sudah menyelesaikan permasalah yang dialaminya.
Ada sekitar 2.220 penerima manfaat yang dilayani diantaranya ada di delapan sekolah, yang sebelumnya sempat tidak terlayani sekitar kurang lebih dua bulan karena disuspend.
“Alhamdulillah kami sudah melakukan pembenahan fasilitas, dan sekarang kita sudah beroperasi kembali, semoga kedepannya juga tidak ada apa-apa,” katanya.
Disinggung penyebab terjadinya keracunan pada beberapa bulan lalu, kata Harun, setelah dicek laboratorium hasilnya negatif baik laboratorium dari pihak SPPG maupun sekolah.
Sehingga dirinya tidak mengetahui secara pasti apa penyebab dari keracunan tersebut, namun pihaknya terus melakukan evaluasi baik dari sisi dapur, infrastrukturnya begitu pula relawan dan manajemen serta PIC dan penerima manfaatnya.
“Kita terus lakukan evaluasi supaya kejadian yang telah lalu tidak terulang lagi, kita sosialisasikan ke masyarakat, perkuat relawan-relawan kita serta meningkatkan SOP yang sudah ditentukan oleh BGN,” ujarnya. (*)











