LARANGAN, BANTENEKSPRES.CO.ID – SDN Larangan 6 menggelar Workshop Penyusunan Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 25-27 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun arah pengembangan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan karakteristik lingkungan sekolah.
Pada Workshop ini melibatkan kepala sekolah, guru, pengawas sekolah, serta komite sekolah yang berkolaborasi dalam menganalisis konteks satuan pendidikan, merumuskan visi dan misi sekolah, hingga menyusun dokumen Kurikulum Satuan Pendidikan beserta modul ajar yang akan digunakan pada tahun pelajaran mendatang.
Kepala Sekolah SDN Larangan 6, Sumarni, mengatakan penyusunan kurikulum ini tidak dapat dilakukan secara instan karena harus berangkat dari kondisi nyata yang dihadapi sekolah.
“Kurikulum yang baik harus lahir dari pemahaman yang mendalam terhadap kebutuhan peserta didik, potensi sekolah, dan tantangan yang ada di lingkungan sekitar. Karena itu kami memulai proses ini dengan analisis konteks yang komprehensif,” ujarnya, Kamis 25 Juni 2026.
Menurutnya, kurikulum bukan sekadar dokumen administratif, melainkan pedoman utama yang menentukan arah pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik di sekolah.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap program pembelajaran yang dirancang benar-benar relevan dengan kebutuhan anak-anak. Kurikulum harus hidup dan menjadi panduan nyata dalam proses belajar mengajar sehari-hari,” katanya.
Dikatakannya, selama workshop berlangsung, peserta melakukan identifikasi berbagai potensi dan kebutuhan sekolah. Hasil analisis tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun visi dan misi yang akan menjadi pijakan seluruh program pendidikan di SDN Larangan 6.
“Visi dan misi sekolah tidak boleh hanya menjadi tulisan yang terpajang di dinding. Visi dan misi harus dipahami, diyakini, dan diwujudkan bersama oleh seluruh warga sekolah dalam setiap kegiatan pendidikan,” tuturnya.
Selain menyusun dokumen kurikulum, tim pengembang sekolah juga fokus menyusun modul ajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik serta capaian pembelajaran yang ditargetkan pada setiap jenjang kelas.
“Kami mendorong guru untuk menyusun modul ajar yang lebih kontekstual, kreatif, dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkembang sesuai potensi masing-masing,” jelasnya.
Selain itu, kata dia, keterlibatan pengawas dan komite sekolah dinilai penting untuk memastikan kurikulum yang disusun tidak hanya memenuhi ketentuan akademik, tetapi juga mendapat dukungan dari seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Kolaborasi menjadi kunci keberhasilan penyusunan kurikulum. Ketika sekolah, pengawas, dan komite memiliki pemahaman yang sama, maka implementasi kurikulum akan berjalan lebih efektif dan berdampak bagi peserta didik,” ungkapnya.
Ia berharap hasil workshop selama tiga hari tersebut mampu menghasilkan dokumen Kurikulum Satuan Pendidikan yang adaptif, berkualitas, dan mampu menjawab kebutuhan pendidikan masa kini.
Ke depan, melalui kurikulum yang disusun secara partisipatif akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan layanan pendidikan yang semakin bermutu di SDN Larangan 6.(*)











