Haji A Frengki, Dari Perangkat Desa Kedaung Barat hingga 4 Kali Jadi Pj Kades di Sepatan Timur

Haji A Frengki, Dari Perangkat Desa Kedaung Barat hingga 4 Kali Jadi Pj Kades di Sepatan Timur
Kisah inspiratif, Haji A Frengki PJ Kades Jati Mulia Sepatan Timur, Tangerang. Foto: Zakky Adnan/bantenekspres.co.id

SEPATANTIMUR, BANTENEKSPRES.CO.ID – Menjadi seorang Penjabat (Pj) Kepala Desa bukanlah perkara mudah. Tanggung jawabnya besar, dinamikanya tinggi dan sering kali harus siap mengemban amanah di waktu yang tak terduga.

Hal inilah yang dirasakan betul oleh Haji A Frengki, Penjabat Kepala Desa Jati Mulya, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang.

Bacaan Lainnya

Di balik seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dikenakannya, tersimpan kisah dedikasi seorang pamong yang telah malang melintang di dunia birokrasi tingkat desa.

Jati Mulya bukanlah panggung pertama baginya, tercatat, ia sudah 4 kali menjadi Pj di desa yang berbeda di wilayah Kecamatan Sepatan Timur.

Rekam jejaknya yang panjang, dimulai dari titik nol sebagai perangkat desa di Kedaung Barat hingga sukses menjadi ASN dan pernah memimpin Koordinator Olahraga Kecamatan (KOK) Sepatan Timur, menjadikannya sosok yang kenyang makan asam garam kepemimpinan akar rumput.

Amanah memimpin Jati Mulya datang dalam suasana duka, pasca wafatnya kepala desa almarhum terdahulu.

Camat Sepatan Timur Miftah Shuritho langsung memanggilnya untuk mengisi kekosongan kepemimpinan.

Uniknya, di awal mendapat tawaran, Haji Frengki sempat menolak dan posisi Pj dipercayakan ke rekannya dari kantor kecamatan.

“Waktu itu saya sempat menolak karena masih merasa kurang enak dengan keluarga almarhum. Saya pikir, setelah saya menolak, langsung ada Pemilihan Antar Waktu (PAW) Kepala Desa. Eh, ternyata sampai mau pensiun ya tidak ada PAW,” kenang Haji Frengki sambil tersenyum, Jumat sore, 19 Juni 2026.

Sebagai seorang ASN yang terikat sumpah untuk siap ditempatkan di mana saja, perintah pimpinan akhirnya tidak bisa ditolak setelah rekannya pensiun.

“Suka tidak suka, mau tidak mau, ya saya harus bersedia,” lanjutnya.

Menjadi pemimpin transisi membawa tantangan tersendiri, Haji Frengki tidak menampik adanya kerikil tajam, seperti menghadapi pihak-pihak yang kurang profesional atau mereka yang sengaja mencari argumen negatif.

Selain kedekatan dengan warga, amanah ini juga memperluas lingkaran sahabatnya, mulai dari perangkat desa hingga rekan-rekan media dan LSM se-Pantura.

Menjelang tahun-tahun politik dan persiapan Pilkades/Pemilihan Antar Waktu (PAW) mendatang, menjaga stabilitas desa menjadi harga mati.

Bagi Haji Frengki, rumus menjaga keamanan desa tidaklah rumit, kolaborasi dan komunikasi.

Untuk memastikan Jati Mulya tetap harmonis, ia merangkul semua lini.

Mulai dari sinergi dengan Babinkamtibmas, berdialog dengan tokoh masyarakat, hingga menggerakkan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan seluruh lembaga kemasyarakatan desa.

“Dengan kita berkolaborasi, saling mengisi, saling ngobrol untuk menjaga kondusifitas lingkungan, alhamdulillah. Jadi dengan modal kolaborasi dan kerja sama, keamanan itu bisa terjalin,” tegas pria yang memiliki motto hidup sederhana ini ‘Jaga kondusifitas lingkungan, jalin komunikasi dan koordinasikan pembangunan’.

Membagi waktu adalah seni tersendiri bagi Haji Frengki. Bagaimana tidak? Selain menjabat sebagai Pj Kepala Desa Jati Mulya, ia juga memegang posisi struktural sebagai staf Kasi Pemerintahan di Kantor Kecamatan Sepatan Timur.

Untuk menyiasati jadwalnya yang super padat, ia menerapkan batasan yang tegas namun bijak, terutama pada hari libur.

Hari kerja fokus total melayani warga Jati Mulya dan menyelesaikan tugas kedinasan di kecamatan.

Hari libur, waktu sakral khusus untuk keluarga, seperti menjemput anak di pesantren atau menghadiri acara keluarga.

Sebagai pejabat sementara, Haji Frengki sadar betul posisinya akan digantikan oleh pemimpin definitif suatu saat nanti.

Ketika ditanya mengenai harapan terbesarnya untuk masa depan Desa Jati Mulya, ia menyampaikan pesan yang mendalam bagi siapa pun penerusnya kelak.

“Harapan saya, ke depan siapa pun yang terpilih menjadi Kepala Desa, baik itu Kepala Desa PAW atau Kepala Desa definitif, minimal pertahankan yang sudah ada, maksimal supaya lebih baik lagi dari sebelumnya. Intinya itu,” pungkasnya menyudahi obrolan. (*)

Pos terkait