CIPUTAT, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kota Tangsel terus mengembangkan konsep perpustakaan modern melalui program Warung Literasi yang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang pemberdayaan masyarakat.
Program tersebut merupakan bagian dari Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang digagas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala DPK Kota Tangsel Dandi Pryantara mengatakan, konsep perpustakaan saat ini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku, melainkan menjadi ruang belajar, berkarya, hingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Sekarang perpustakaan bukan hanya jadi tempat baca atau literasi, tapi juga menjadi pusat pemberdayaan masyarakat, tempat belajar dan tempat berkarya,” ujarnya kepada BANTENKSPRES.CO.ID, Senin, 18 Mei 2026.
Menurutnya, Warung Literasi dibentuk untuk mendukung aktivitas masyarakat yang berkunjung ke perpustakaan sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi.
“Bukan hanya tempat belajar saja, tapi tempat berkarya untuk meningkatkan kualitas hidup sosial masyarakat,” tambahnya.
Ia menjelaskan, perpustakaan Kota Tangsel tetap buka pada akhir pekan sehingga masyarakat dapat berkunjung bersama keluarga.
“Sabtu dan Minggu juga buka. Banyak keluarga dan pelajar datang ke perpustakaan,” jelasnya.
Selain menyediakan koleksi buku fisik, perpustakaan juga dilengkapi fasilitas digital, komputer, hingga layanan data online untuk menunjang kebutuhan masyarakat.
“Bisa lihat buku langsung, ada juga layanan digital dan komputer,” tuturnya.
Perpustakaan Kota Tangsel juga menyediakan koleksi buku braille bagi penyandang tunanetra sebagai bentuk pelayanan inklusif. “Ada juga buku tulisan braille,” ungkapnya.
Menurutnya, kunjungan masyarakat ke perpustakaan cukup tinggi. Dalam sehari, jumlah pengunjung bisa mencapai puluhan orang, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.
“Setiap hari cukup ramai, ada yang membaca, mengerjakan skripsi, sampai kegiatan field trip sekolah,” tuturnya.
Meski demikian, Dandi menilai indeks pembangunan literasi di Kota Tangsel masih perlu ditingkatkan, khususnya pada pengembangan perpustakaan sekolah.
“Literasi membaca masyarakat Kots Tangsel sebenarnya sudah bagus, tapi pengembangan perpustakaan sekolah masih perlu ditingkatkan,” tuturnya.
Dandi berharap pemerintah, sekolah, DPRD hingga pihak swasta dapat bersama-sama memperkuat budaya literasi agar minat baca masyarakat semakin meningkat. (*)











