SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Kekeringan di Kota Tangsel semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mencatat sebanyak 73 titik kekeringan tersebar di 11 kelurahan pada tiga kecamatan hingga 25 Oktober 2026.
Kondisi tersebut berdampak terhadap 3.523 kepala keluarga (KK) atau sekitar 12.820 jiwa. Untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, BPBD Kota Tangsel bersama sejumlah perangkat daerah dan pihak swasta telah mendistribusikan 2.621.100 liter air bersih sejak 8 Juli 2026.
Penata Layanan Operasional Danton BPBD Kota Tangsel Dian Wiryawan mengatakan, jumlah titik kekeringan terus bertambah seiring musim kemarau yang masih berlangsung.
“Update laporan rekapitulasi penanganan bencana kekeringan di Kota Tangsel periode 8 Juli 2026 sampai 25 Oktober 2026, jumlah titik kekeringan ada 73 titik,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Minggu, 25 Oktober 2026.
Dian menambahkan, mayoritas wilayah terdampak berada di Kecamatan Setu. Sejumlah titik mengalami kesulitan mendapatkan air bersih karena sumber air warga mengering, bahkan sumur tidak lagi mengeluarkan air.
Berdasarkan data BPBD, titik kekeringan tersebar di Kelurahan Keranggan sebanyak 17 titik, Kademangan 16 titik, Buaran 11 titik, Setu delapan titik, Muncul enam titik, Babakan lima titik, Bakti Jaya empat titik, Serpong dua titik, Benda Baru dua titik, serta Rawa Mekar Jaya satu titik.
“Serta dua titik di Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang,” tambahnya.
Untuk membantu warga, BPBD Kota Tangsel melakukan distribusi air bersih setiap hari dengan dukungan sejumlah pihak. Di antaranya Sinar Mas Land, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Tangsel, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel, serta Koramil Serpong.
Dian menhelaskan, satu mobil tangki dapat melakukan pengiriman air bersih hingga tiga kali dalam sehari, bergantung pada kebutuhan di lapangan. “Jadi tiap hari satu mobil tangki bolak-balik sampai tiga kali menyalurkan air bersih ke warga,” jelasnya.
Dia mengaju, kekeringan juga terjadi pada sejumlah sumur bor yang dibangun oleh dinas terkait. Bahkan, sumur bor dengan kedalaman sekitar 50 meter masih kesulitan mendapatkan sumber air, terutama di kawasan sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipeucang.
“Memang daerah di sana sulit air karena kondisi wilayah,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris BPBD Kota Tangsel Essa Nugraha mengatakan, fenomena El Nino turut memengaruhi kondisi kemarau berkepanjangan sehingga kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak terus meningkat.
Menurutnya, BPBD bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terus melakukan distribusi air bersih untuk membantu memenuhi kebutuhan warga. “Rata-rata volume air yang disalurkan mencapai 40 ribu sampai 60 ribu liter per hari,” ujarnya.
Essa menambahkan, armada yang digunakan antara lain mobil tangki milik DCKTR serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Tangsel. Kendaraan tersebut memiliki kapasitas 5.000 liter dan 8.000 liter, dengan intensitas pengiriman dua hingga tiga ritase setiap hari.
“Upaya distribusi air bersih tersebut terus dilakukan untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari selama kekeringan masih berlangsung,” tutupnya. (*)









