Tiga Bulan Kasus Kekerasan Capai 133, Korban Didominasi Perempuan Dan Pelaku Pendatang

Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang Haerofiatna Foto : Agunggumelar/Bantenekspres.co.id

SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKBPPPA) Kabupaten Serang, mencatat dalam tiga bulan terakhir terdapat 133 kasus kekerasan seksual.

Korban atas kasus kekerasan seksual didominasi perempuan dan pelaku mayoritas dari pendatang, yang sudah ditangani kepolisian untuk mendapat hukuman yang seadil-adilnya.

Bacaan Lainnya

Kepala DKBPPPA Kabupaten Serang Haerofiatna mengatakan, tahun ini sudah ada 133 kasus yang kemungkinan bertambah karena semakin banyak yang berani melaporkannya, sementara kasus ini ditemukan dalam tiga bulan terakhir.

“Bisa bertambah karena semakin berani speak up, akan semakin muncul dan ketahuan, hanya tinggal tindak lanjut action dari kami untuk memberikan bantuan,” katanya, Rabu 6 Mei 2026.

Haero mengatakan, semua kasus tersebut ada yang selesai tertangani ada juga masih proses, seperti di Kecamatan Waringinkurung yang sudah ditangani pengacara, melakukan pendampingan hukum yang diharapkan segera selesai, dimana proses hukum berjalan maksimal selama enam bulan.

Adapun umur korban kekerasan seksual rata-rata usianya di bawah umur, dan ternyata banyak juga orang tua yang tidak memahami apa yang sudah disampaikan anaknya.

“Sebetulnya anak sudah speak up, menceritakan apa yang dialaminya namun mungkin orangtua sibuk akhirnya tidak memahami maksud cerita anaknya. Sehingga, pas kejadian baru mereka itu menyadarinya,” ujarnya.

Dikatakan Haero, pelaku kekerasan seksual yang terjadi mayoritas pendatang atau bukan warga asli Kabupaten Serang, seperti beberapa kasus yang terjadi belakangan ini yang ternyata pelaku bukan warga Kabupaten Serang.

“Ternyata banyak pelaku dari pendatang, bukan pribumi seperti kasus di Waringinkurung infonya orang Mancak ternyata pendatang, sama halnya kasus di Tanara dan Tirtayasa ternyata bukan orang Serang tapi pendatang,” ucapnya.

Haero mengatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya pencegahan supaya kasus kekerasan tidak terulang kembali, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, kalangan pelajar, dan orangtua.

Kemudian pemerintah kecamatan sudah diminta untuk melakukan aktivitas seperti pengajian rutin, dengan mengajak pemuda untuk pencegahan dan selalu waspada.

“Saya juga minta ke TNI Polri melakukan pengawasan di lapangan, terhadap para remaja di jam sekolah banyak siswa yang bolos dan nongkrong di jalan dan tempat tertentu. Patut diwaspadai, karena perilaku dan budaya remaja sekarang mengkhawatirkan,” tuturnya. (*)

Pos terkait