SMPN 30 Tangerang Perkuat Budaya Bersih Lewat Program LISA

Siswa-siswi SMPN 30 Tangerang saat membersihkan sampah di area sekolah. Muhammad Dhuyuf Khuzaimi/bantenekspres.co.id

BENDA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Komitmen menjaga kebersihan lingkungan sekolah terus diperkuat oleh SMPN 30 Tangerang melalui berbagai program pembiasaan. Sekolah ini memiliki satu program yang dikenal oleh warga sekolah dengan sebutan LISA (Liat Sampah Ambil).

Kepala sekolah SMPN 30 Tangerang, Muhamad Dace, menegaskan kebersihan bukan sekadar kegiatan seremonial atau program sementara, melainkan harus menjadi kebiasaan yang melekat pada seluruh siswa. Menurutnya, pembentukan karakter membutuhkan konsistensi dan keteladanan dari seluruh warga sekolah.

Bacaan Lainnya

“Budaya bersih tidak boleh hanya muncul saat penilaian. Kami ingin ini menjadi kebiasaan sehari-hari siswa, baik di sekolah maupun di rumah,” ujarnya kepada bantenekspres.co.id, Rabu 6 Mei 2026.

Salah satu inovasi unggulan yang diterapkan adalah program LISA, singkatan dari Lihat Sampah Ambil. Program ini dirancang sederhana, mudah diingat, dan dapat diterapkan kapan saja oleh seluruh warga sekolah.

“Program LISA ini sederhana tapi berdampak besar. Setiap melihat sampah, siapa pun wajib mengambilnya. Ini cara kami menanamkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.

Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, sekolah menerapkan kebijakan membawa wadah makan dan minum sendiri dari rumah. Langkah ini bertujuan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai yang berpotensi menambah volume sampah di lingkungan sekolah.

“Kami membiasakan siswa membawa tempat makan sendiri agar sampah plastik bisa ditekan. Ini langkah kecil, tetapi dampaknya sangat besar jika dilakukan bersama-sama,” tambahnya.

Selain itu, kata Dace, sekolah sengaja tidak menyediakan banyak tempat sampah di area koridor kelas. Kebijakan ini dilakukan untuk melatih siswa agar bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan sendiri.

“Kami ingin siswa sadar bahwa sampah yang mereka buat adalah tanggung jawab mereka. Jadi tidak selalu bergantung pada fasilitas tempat sampah di sekitar,” kata Dace.

Sementara itu, kegiatan gotong royong rutin juga menjadi bagian penting dari pembiasaan budaya bersih di sekolah yang berada di Tangerang ini. Setiap pekan, siswa dan guru bersama-sama membersihkan lingkungan sekolah sebagai bentuk kerja sama dan kepedulian bersama.

“Melalui gotong royong, siswa belajar bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan,” ujarnya.

Dace menyebut, keteladanan guru menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini. Guru didorong untuk memberikan contoh nyata dalam menjaga kebersihan di lingkungan sekolah.

“Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Karena itu, guru harus memberi contoh langsung, termasuk mengambil sampah tanpa harus menyuruh siswa,” tuturnya.

Ia berharap kebiasaan baik yang ditanamkan di sekolah dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan demikian, siswa tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter peduli lingkungan.

“Harapan kami, siswa membawa budaya bersih ini ke mana pun mereka pergi. Jika kebiasaan ini tertanam sejak dini, dampaknya akan sangat besar bagi masa depan,” pungkasnya. (*)

Pos terkait