SERANG – PT Solusindo Sampah Energi (SSE) dan praktisi asal Jepang melakukan audiensi ke kantor Gubernur Banten, Andra Soni di Gedung Negara, Kota Serang, Rabu 6 Mei 2026.
Kedatangan menawarkan kerjasama untuk membangun pabrik pengolahan sampah dengan teknologi terbaru asal Jepang yang mampu mengolah 100 persen sampah tanpa pilah menjadi energi uap atau steam.
Direktur Utama PT SSE, Mahadir, mengatakan bahwa teknologi ini akan menjadi pilot project pertama di Indonesia. Berbeda dengan teknologi yang ada saat ini yang umumnya hanya mampu mengolah sekitar 40 persen sampah, sementara teknologi yang ditawarkan diklaim mampu melumat habis seluruh sampah yang masuk.
“Problem sampah di negara kita terjadi karena selama ini sampah dipilah-pilah, sehingga hanya 40 persen yang terolah dan sisanya 60 persen menumpuk jadi masalah berkepanjangan. Dengan teknologi dari Jepang ini, sampah tidak perlu dipilah, 100 persen langsung diolah menjadi gas cair atau steam,” katanya kepada awak media.
Ia menjelaskan, pemilihan Banten sebagai lokasi proyek percontohan karena keberadaan kawasan industri yang masif di Banten, dan menjadi pasar utama bagi steam yang dihasilkan.
Selama ini, banyak industri bergantung pada batubara yang memiliki biaya tinggi dan risiko polusi yang besar.
“Pabrik ini nantinya akan didirikan di kawasan industri. Hasil pengolahannya berupa steam akan langsung dialirkan melalui sistem pipanisasi ke pabrik-pabrik pengguna. Ini jauh lebih efisien, lebih murah, dan ramah lingkungan dibandingkan batubara,” ungkapnya.
Berdasarkan perhitungannya, setiap 1.000 ton sampah yang diolah diprediksi mampu menghasilkan sekitar 2.400 hingga 2.500 ton gas cair atau steam.
“Selain uap, sisa prosesnya juga dapat diolah menjadi metanol sebagai bahan baku industri plastik maupun campuran bahan bakar nabati atau B30 hingga B50,” jelasnya.
Adapun rencana proyek ini akan dijalankan melalui skema investasi swasta murni tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Nilai investasi untuk pabrik dengan kapasitas 3.000 hingga 4.000 ton sampah per hari diperkirakan mencapai Rp4 triliun.
Terkait logistik, PT SSE menyatakan siap mengambil alih manajemen pengangkutan sampah dari titik pembuangan TPS atau TPA ke mulut pabrik agar operasional tidak terhenti.
“Kami menggandeng mitra dari Jepang, yang akan melakukan total investasi. Kami sudah meninjau langsung implementasinya di Singapura. Pabriknya sangat bersih, tidak berbau, dan bekerja secara otomatis. Harapan kami, sampah tidak lagi menjadi birokrasi yang rumit,” ungkapnya.
Saat ini, pihak PT SSE sedang melakukan tindak lanjut berupa kesepakatan dengan pengelola kawasan industri dan perusahaan pemakai steam sebelum melangkah ke tahap penandatanganan MoU dan pembangunan fisik.
“Ini masih kita tindak lanjutin untuk pertemuan nanti agreemen juga dengan pihak kawas industri. Kemudian perusahaan pemakai steam. Baru nanti kita rapikan dasar nanti MOU semua,” paparnya. (*)










