CISOKA,BANTENEKSPRES.CO.ID – Model pendidikan berbasis industri yang diterapkan di SMK Gyokai Indonesia menarik perhatian Pemerintah Provinsi Banten. Komisi V DPRD Banten bersama Dinas Pendidikan Provinsi Banten melakukan kunjungan langsung untuk mempelajari sistem pembelajaran yang dinilai mampu mencetak lulusan siap kerja.
Hasil kunjungan tersebut mendorong DPRD Banten agar model pendidikan yang diterapkan di SMK Gyokai dapat dijadikan rujukan dan distandarisasi untuk diterapkan di sekolah lain di wilayah Banten. Skema pendidikan gratis yang dipadukan dengan praktik industri dianggap efektif dalam menekan angka pengangguran sekaligus mengatasi persoalan putus sekolah.
Anggota Komisi V DPRD Banten Gus Imron mengapresiasi, konsep yang dijalankan sekolah tersebut. Ia menilai, fasilitas dan sistem pendidikan yang tersedia memiliki kualitas tinggi meskipun tidak membebankan biaya kepada siswa.
“Kami melihat ini sebagai terobosan. Sekolah gratis dengan kualitas seperti ini tentu membutuhkan biaya besar jika dibangun oleh pemerintah. Ini bisa menjadi contoh bagi pengembangan pendidikan ke depan,” ujarnya usai kunjungan kerja, Jumat 1 Mei 2026.
Ia menambahkan, DPRD Banten siap mendukung pengembangan model serupa sebagai bagian dari solusi konkret dalam mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Sementara itu, CEO Gyokai Indonesia, Teguh Imam Pambudi, menjelaskan bahwa kekuatan utama sistem pendidikan di sekolah tersebut terletak pada komposisi pembelajaran yang didominasi praktik, yakni sekitar 70 persen, sementara teori sebesar 30 persen.
Menurutnya, keterlibatan langsung dengan dunia industri membuat siswa tidak hanya belajar, tetapi juga mendapatkan pengalaman kerja sekaligus uang saku selama masa pendidikan.
“Kami ingin memastikan siswa tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga keterampilan dan akses ke dunia kerja. Program kami langsung terhubung dengan industri,” jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga menjalankan program lanjutan bagi lulusan agar tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, seiring dengan penempatan kerja yang difasilitasi oleh sekolah.
Di sisi lain, Kasi SMK Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah Kabupaten Tangerang Maksis Sakhabi menilai SMK Gyokai dapat menjadi contoh pengembangan pendidikan vokasi di Banten.
Ia menyebut, salah satu persoalan utama pendidikan vokasi selama ini adalah ketidaksesuaian antara kurikulum dengan kebutuhan industri. Model yang diterapkan di SMK Gyokai dinilai mampu menjawab tantangan tersebut melalui pendekatan link and match yang lebih konkret.
“Pendekatan yang diterapkan di sini menunjukkan adanya keselarasan antara pendidikan dan kebutuhan industri, sehingga lulusan lebih siap masuk ke dunia kerja,” katanya.(*)
Reporter: Asep Sunaryo










