SERANG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten terus melakukan peninjauan ke sejumlah pasar yang ada di Banten. Langkah itu sebagai upaya untuk mengantisipasi adanya kenaikan sginifikan harga sejumlah komoditas bahan pokok.
Kepala Disperindag Provinsi Banten, Iwan Hermawan, mengatakan turun ke pasar menjadi agenda rutin yang telah dilakukan sejak awal Ramadan. Terlebih bila mendapat aduan langsung dari masyarakat terkait adanya komoditas yang dijual lebih dari harga eceran tertinggi (HET).
“Dari awal puasa kita sudah turun ke pasar-pasar, kami ingin melihat kondisi penjualan komoditas bahan pokok yang ada di sana,” katanya, Rabu 25 Februari 2026.
Tak hanya itu, Disperindag Banten juga memiliki delapan pasar pantau yang tersebar di delapan kabupaten/kota. Pasar pantau ini memiliki tugas untuk meninjau rata-rata harga komoditas bahan pokok yang dijual di pasar di masing-masing daerah.
“Pasar pantau itu tempat kami melakukan cek harga. Nah, dari delapan pasar pantauan itu bukan saja komoditas bapok-nya tapi semua yang dijual di situ. Tahu, tempe, dan semua kita cek, dan nanti itu dibagi rata, jadi dibagi delapan karena pasar pantau kita kan delapan,” ungkapnya.
Harga Cabai Tinggi
Berdasarkan hasil pantauan awal Ramadan, Iwan mengaku harga cabai rawit melambung tinggi mencapai Rp98 ribu perkilogram. Harga itu lebih tinggi dari Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57 ribu perkilogram.
“Berdasarkan hasil pantauan kita ke beberapa titik pasar ya, yang sudah kita lakukan berkali-kali, memang untuk yang lain selain cabai rawit itu relatif stabil,” tuturnya.
Ia menuturkan, harga cabai rawit meroket akibat permintaan lebih tinggi dibandingkan persediaan. Ia mengaku, saat ini stok komoditas andalan itu mencukupi namun terbatas.
“Kami sudah cek ke beberapa pasar, pasar induk maupun pasar-pasar pantau, stok itu aman, stok itu ada. Cuma harganya memang yang mahal karena sedikit, produksinya pun sedikit yang dikirimkan ke kita,” jelasnya.
Iwan mengaku, pemerintah telah membentuk satuan tugas (Satgas) tentang keamanan pangan, mulai dari terkait pasokan, mutu, maupun dari harga. Satgas ini terbentuk mulai dari pemerintah daerah terdiri dari beberapa OPD terkait, hingga pihak kepolisian dalam hal ini Polda Banten.
Satgas ini bertugas untuk menindaklanjuti adanya aduan yang meresahkan masyarakat. Sebab dalam momentum Ramadan dan Idul Fitri ini kerap dijadikan kesempatan oleh oknum, dan tentunya merugikan masyarakat.
“Misalkan ada laporan harga daging tinggi di Pasar Tanah Tinggi, nah nanti kita datang langsung ke situ. Datang langsung cari langsung lokusnya ke daging, bener nggak nih gitu kan aduan dengan realita di lapangan,” paparnya.
Sebelumnya, Gubernur Banten, Andra Soni, mengatakan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Banten memiliki tugas utama yakni memastikan ketersediaan pasokan pangan dan kelancaran distribusi di seluruh wilayah menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Dengan begitu pasokan aman dan harga komoditas terjaga.
“Menjadi tugas kita memastikan ketersediaan pasokan pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri terjaga. Distribusi harus lancar dan stok tersedia,” katanya.
Untuk itu, Pemprov Banten bersama TPID menyiapkan sejumlah langkah konkret, di antaranya pelaksanaan pasar murah, penguatan operasi pasar, serta pelancaran distribusi komoditas strategis. Upaya tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota, BUMD pangan, pelaku usaha, dan instansi vertikal.
Tak hanya itu, Andra Soni juga akan melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar guna memastikan langsung kondisi harga dan pasokan di lapangan. Selain itu, Pemprov Banten akan menindaklanjuti hasil pemantauan Bank Indonesia (BI) terkait dinamika harga di daerah produsen.
“Secara keseluruhan kondisi inflasi dan pasokan pangan di Provinsi Banten saat ini masih dalam kondisi terjaga, dengan distribusi yang relatif lancar. Tapi kita akan terus pantau kondisinya,” paparnya. (*)
Reporter: Syirojul Umam
Caption:











