Mengenal Angklung Gubrag, Warisan Budaya Langka dari Desa Kemuning Kresek yang Terus Bergema

Jelajahi keunikan Angklung Gubrag, kesenian langka tanpa tangga nada dari Desa Kemuning, Kresek, Kabupaten Tangerang. Foto: Pemkab Tangerang

KRESEK,BANTENEKSPRES.CO.ID – Di tengah gempuran modernitas, Kabupaten Tangerang ternyata menyimpan sebuah permata budaya yang hampir punah yakni, Angklung Gubrag.

Kesenian tradisional ini bukan sekadar alat musik, melainkan simbol ketahanan budaya masyarakat Desa Kemuning, Kecamatan Kresek.

Bacaan Lainnya

Berbeda dengan angklung pada umumnya yang memiliki tangga nada diatonis (do-re-mi), Angklung Gubrag tampil unik karena tidak mempunyai tangga nada.

Namun, justru di situlah letak keajaibannya. Suara yang dihasilkan bersifat ritmis, magis, dan mampu membawa pendengarnya kembali ke akar tradisi masa lalu.

Satu set Angklung Gubrag terdiri dari enam bilah angklung yang masing-masing memiliki nama dan peran tersendiri.

Nama-nama tersebut mencerminkan filosofi kehidupan dan struktur sosial masyarakat setempat meliputi, Bibit, Anak Bibit, Engklok 1, Engklok 2, Gonjing dan Panembal.

Keenam instrumen ini dimainkan secara harmonis melalui Sanggar Seni Tradisional ‘Angklung Gubrak Putra Kemuning’, di Kampung Tonjong, RT 04 RW 02, sebuah wadah yang menjadi benteng terakhir pelestarian budaya ini di wilayah Kresek.

Camat Kresek Eka Fathussidki menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur ini agar tidak hilang ditelan zaman.

Menurutnya, Angklung Gubrag adalah identitas yang harus dibanggakan oleh warga Tangerang, khususnya generasi muda.

“Seni Angklung Gubrag merupakan salah satu kesenian tradisional yang sudah langka. Kami mendukung masyarakat Desa Kemuning dalam melestarikan budaya ini agar tetap eksis dan dikenal luas,” ujarnya, Selasa, 17 Februari 2026.

Langkah pelestarian ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga tradisi, tetapi juga berpotensi menjadikan Desa Kemuning sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Tangerang.

Bagi para pecinta budaya dan wisatawan, menyaksikan pertunjukan Angklung Gubrag memberikan pengalaman yang berbeda.

Getaran bambu yang beradu menciptakan suasana sakral namun meriah.

Pertunjukan ini biasanya diiringi oleh tarian tradisional dan tabuhan kendang yang menambah dinamika gerakan para pemainnya.

Dengan semangat gotong royong, warga Desa Kemuning membuktikan bahwa keterbatasan nada bukanlah penghalang untuk menciptakan harmoni yang indah. (*)

Pos terkait