CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kabar duka datang dari dunia sepakbola tanah air. Elly Idris (63), mantan pemain tim nasional (Timnas) sepakbola Indonesia tutup usia pada Kamis, 12 Februari 2026 sekitar pukul 15.00 WIB.
Pria kelahiran Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, 4 November 1962 tersebuh menghembuskan nafas terakhir ketika tiba di Rumah Sakit Cinta Kasih, Ciputat.
Semasa aktif sebagai pemain, Elly Idris pernah menjadi bagian dari Timnas Indonesia. Ia turut andil dalam keberhasilan Indonesia menembus babak semifinal Asian Games 1986. Tugas terakhirnya bersama Timnas Indonesia saat bermain di SEA Games 1993. Di level klub, Elly pernah membela klub Galatama PS Jayakarta, Yanita Utama, hingga Kramayudha Tiga Berlian yang diwarnai dengan torehan gelar.
Almarhum juga pernah menjadi asisten pelatih Persita musim 2007/2008 kemudian berstatus pelatih kepala musim 2009/2010. Ia kembali ditunjuk memimpin Persita untuk periode 2010-2013 dan kembali lagi pada musim 2017/2018.
Jenazah Elly dimakamkan di TPBU Blok Miring pada Jumat, 13 Februari 2026 pukul 10.30 WIB. Lokasi pemakaman berada di Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat tak jauh dari kediamannya.
Sebelum dimakamkan, tampak kerabat, sahabat daan teman-teman almarhum datang kerumah duka, seperti Bambang Nurdiansyah, David Alberth Tutuarima (Berthy) dan lainnya.
Tampak juga sejumlah karangan bunga ucapan dukacita dari Komisaris Utama PT. Pertamina Mochamad Iriawan, Presiden Klub Persita Tangerang A. Zaki Irawan, Ketua PSSI yang sekaligus Menpora Erick Tohir dan lainnya.
Kepergian Elly Idris meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, maupun rekan-rekannya. Hal tersebut juga dirasakan oleh mantan pemain sepak bola nasional, David Alberth Tutuarima.
Pria yang akrab disapa Berthy ini mengenang almarhum sebagai sosok yang pendiam, namun memiliki karakter kuat.
“Elly ini orangnya pendiam, tidak banyak omong. Tapi kalau sudah menyangkut pembicaraan yang serius, dia ikut dan fokus,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Jumat, 13 Februari 2026.
Menurutnya, Elly merupakan pribadi yang baik dan sangat setia terhadap teman-temannya. “Dia baik, setia sama teman. Saya masih sering main sepak bola bareng di Lapangan Brimob Ciputat,” tambahnya.
Berthy juga mengingat kebersamaan mereka saat memperkuat Timnas Indonesia dalam ajang Asian Games 1986 di Korea, di mana Indonesia berhasil meraih peringkat keempat.
“Terakhir kita main sepak bola bareng itu Asian Games 1986 di Korea, dan kita peringkat empat,” jelasnya.
Tak hanya sebagai pemain, Elly juga dikenal memiliki kompetensi kepelatihan. Almarhum tercatat mengantongi lisensi pelatih AFC A.
Mengenai detik-detik terakhir almarhum, Berthy menceritakan bahwa ia mendapat kabar dari istri Elly pada Kamis siang.
“Kamis siang saya dapat kabar dari istrinya Elly, katanya sejak pagi Elly sudah tidak bisa bicara. Jam dua siang saya datang dan langsung saya bawa ke rumah sakit,” ungkapnya.
Namun, kondisi almarhum saat itu sudah melemah. “Waktu saya angkat badannya sudah dingin, kepalanya juga seperti menunjuk-nunjuk pusing,” terangnya.
Berthy menyebut jarak rumah menuju rumah sakit hanya sekitar 10 menit. Akan tetapi saat tiba di rumah sakit, dokter memastikan Elly telah meninggal dunia.
“Begitu sampai rumah sakit langsung diperiksa dokter saat masih di mobil. Dokter bilang Elly sudah meninggal dua jam sebelumnya. Saya sampai rumah sakit sekitar pukul tiga,” tutup Berthy.
Sementara itu, rekan almarhum lainnya, Bambang Nurdiansyah atau yang akrab disapa Banur, juga mengaku sangat kehilangan. “Satu lagi teman saya, sahabat saya pergi mendahului saya. Jadi satu bulan ini saya kehilangan lima teman eks pemain nasional,” ujarnya.
Banur mengenang perjalanan Elly yang berasal dari Pulau Buru. Ia menyebut Elly dibawa oleh seorang dokter untuk bermain sepak bola di Jakarta, hingga prestasinya berkembang pesat dan menembus level Timnas.
“Elly ini dari Pulau Buru, dibawa oleh dokter untuk main di Jakarta. Prestasinya pesat, maju, akhirnya jadi pemain nasional bareng saya,” katanya.
Menurut Banur, Elly adalah sosok yang sederhana, bersahaja, dan dikenal memiliki daya jelajah tinggi di lapangan. “Elly ini sangat sederhana, bersahaja. Kalau di lapangan dijuluki gelandang yang tidak kenal lelah, karena memang posisi dia gelandang bertahan,” ungkap Banur.
Ia menambahkan, almarhum tetap aktif bermain sepak bola hingga usia senja, bahkan masih sering bepergian menggunakan sepeda motor.
“Sebelum meninggal dia masih main sepak bola sama teman-teman tua-tua, masih bersahaja, kemana-mana naik motor,” katanya.
Banur mengungkapkan, dirinya pernah bermain bersama Elly dalam berbagai momen penting Timnas, termasuk pada fase pra Piala Dunia dan saat membela klub Pelita Jaya.
“Saya main bareng Elly saat pra Piala Dunia sekitar tahun 1986, juga banyak main bersama Timnas. Termasuk kita main di Pelita Jaya juga bareng,” ujarnya.
Bahkan, empat hari sebelum meninggal dunia, Elly masih sempat bermain sepak bola di Depok. “Empat hari sebelum meninggal, Elly masih main sepak bola di Depok. Informasi dari istrinya, setelah main kakinya bengkak dan terlihat lelah,” tambah Banur.
Banur mengaku, terakhir bertemu almarhum beberapa minggu lalu saat bermain bola, namun komunikasi masih sering dilakukan melalui pesan singkat.
“Saya terakhir ketemu waktu main bola beberapa minggu lalu. Tapi saya sering WA-an sama dia,” tutupnya. (*)
Reporter: Tri Budi











