TIGARAKSA, BANTEN EKSPRES.CO.ID – Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di Kabupaten Tangerang.
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang mencatat, sepanjang tahun 2025 terdapat sekitar 302 ribu kasus ISPA, diantaranya 198 ribu kasus ISPA pada anak-anak, sementara pada kelompok orang dewasa mencapai 104 ribu kasus.
ISPA merupakan penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas dan mencakup gejala seperti batuk dan pilek. Seluruh kasus dengan keluhan tersebut diklasifikasikan sebagai ISPA dan menjadi perhatian khusus layanan kesehatan, terutama di Puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang Hendra Tarmizi menegaskan, penanganan ISPA menjadi penting karena penyakit ini berpotensi berkembang menjadi pneumonia, terutama pada anak-anak. Pneumonia dinilai berbahaya karena dapat menyebabkan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat.
“Kalau ISPA ditemukan lebih awal, langsung kita obati. Intervensinya dengan pengobatan, termasuk antibiotik sesuai indikasi, supaya tidak berkembang menjadi pneumonia,” ujar Hendra kepada Tangerang Ekspres, Selasa 10 Februari 2026.
Sebagai langkah pencegahan, kata dia, Dinas Kesehatan juga mendorong Puskesmas untuk aktif menemukan kasus ISPA sedini mungkin. Upaya ini dilakukan agar risiko komplikasi, khususnya pada balita, dapat ditekan.
Berdasarkan data layanan kesehatan di Kabupaten Tangerang, jumlah kasus ISPA tersebut dihimpun dari seluruh Puskesmas, rumah sakit, dan klinik yang beroperasi di wilayah tersebut.
Meski jumlahnya terbilang tinggi, Dinas Kesehatan menilai angka tersebut masih dalam batas normal karena tidak mencapai 10 persen dari total jumlah penduduk Kabupaten Tangerang. Namun kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada anak balita yang daya tahan tubuhnya masih rentan.
Penyakit ISPA, lanjut Hendra, umumnya dipengaruhi oleh faktor cuaca dan daya tahan tubuh. Penyakit ini sebagian besar disebabkan oleh virus, sehingga tidak secara langsung berkaitan dengan polusi udara. Berbeda halnya dengan paparan zat tertentu seperti asbes, yang dapat memicu penyakit paru-paru lain seperti asbestosis.
“ISPA itu hampir sama polanya di semua wilayah. Faktor utamanya cuaca dan kondisi tubuh. Yang penting adalah penanganannya cepat, supaya tidak berkembang menjadi pneumonia,” katanya. (*)











