PHRI Prediksi Momen Nataru Kunjungan Wisata ke Kota Tangsel Stabil

PHRI Prediksi Momen Nataru Kunjungan Wisata ke Kota Tangsel Stabil
Ketua PHRI Kota Tangael Gusti Efendi. Foto : Miladi Ahmad/Bantenekspres.co.id

CIPUTAT,BANTENEKSPRES.CO.ID – Jelang momen Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), potensi kunjungan wisata di Kota Tangsel diprediksi tidak akan mengalami lonjakan. Pasalnya, Kota Tangsel bukan menjadi tujuan wisata utama seperti tempat atau daerah lain.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Tangsel Gusri Efendi mengatakan, Kota Tangsel memiliki karakter yang berbeda dengan kota-kota tujuan wisata lainnya. Untuk sektor pariwisata yang berkaitan dengan okupansi hotel, saat momen Natal dan Tahun Baru justru cenderung biasa saja.

Bacaan Lainnya

“Tidak ada lonjakan yang signifikan. Polanya memang berbeda, Tangsel adalah kota jasa dan kota hunian. Yang menarik, justru hari kerja atau weekday yang lebih ramai dibandingkan akhir pekan. Ini karena aktivitas bisnis di Tangsel cukup tinggi, banyak rapat, pertemuan kerja, hingga kegiatan perusahaan yang menggunakan fasilitas hotel,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Jumat, 13 Desember 2025.

Gusri menambahkan, okupansi pada hari kerja rata-rata berada di 70-80 persen, sedangkan saat akhir pekan justru turun di kisaran 50-60 persen. Ia mencontohkan kota wisata seperti Bandung, justru akhir pekan yang ramai. Namun, kota Tangsel sebaliknya, 5 hari ramai dan 2 hari landai.

“Ini terjadi karena sebagian besar warganya adalah masyarakat beraktivitas kerja, sementara di akhir pekan mereka lebih fokus pada kegiatan keluarga atau justru bepergian ke luar kota,” tambahnya.

Menurutnya, Kota Tangsel juga dikenal sebagai sumber wisatawan. Banyak warga Kota Tangsel yang berlibur ke berbagai daerah, termasuk Bali. Bahkan sering ada ungkapan dimana pun destinasi wisata, pasti ada orang Kota Tangsel.

“Ini tidak heran karena, rata-rata masyarakat kelas menengah Tangsel bisa menghabiskan Rp6-10 juta per tahun untuk kebutuhan wisata,” jelasnya.

Menurutnya, untuk momen Nataru, destinasi yang ramai di Tangsel tetap hotel-hotel dan pusat kuliner tetapi, kenaikannya tidak setinggi daerah lain. Ada tantangan juga dari kawasan sekitar, terutama Gading Serpong, yang sekarang sudah punya banyak pilihan destinasi dan daya tarik baru dan ini berbeda dengan dulu saat kawasan itu masih sepi.

“Lokasinya pun dekat sekali, hanya beberapa menit, sehingga banyak warga Tangsel yang bergeser ke sana untuk rekreasi atau kuliner,” tuturnya.

Gusri mengungkapkan, untuk sektor kuliner sendiri, dua hari akhir pekan biasanya sangat ramai, karena kuliner itu menjadi aktivitas keluarga. Banyak warga pinggiran Jakarta juga ikut makan di Kota Tangsel.

“Meski demikian pertumbuhannya tidak secepat tiga tahun terakhir, misalnya target yang dulu bisa mencapai 110 persen, kini sekitar 90 persen,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Kota Tangsel tetap mampu mencapai target pendapatan sektor pariwisata dan jasa. “Namun, dinamika persaingan kawasan dan karakter sebagai kota hunian membuat pola keramaiannya sangat khas, weekday ramai oleh aktivitas bisnis, weekend lebih hidup di sektor kuliner, sementara hotel cenderung menurun,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Tangsel Mohammad Ervin Andani mengatakan, jelang momen Nataru pihaknya saat ini sedang mendata tempat-tempat destinasi wisata yang mengadakan acara dan promo khusus.

“Kita sedang keliling ketempat-tempat destinasi baik, mal yang mengadakan acara spesial diakhir tahun. Dalam waktu dekat ini baru ketahuan apa saja, baik garage sale atau black friday dan lainnya,” ujarnya.

Ervin menambahkan, destinasi wisata itu bisa berupa alam dan buatan, termasuk

tempat Almahmudah Manasik Training Center yang ada di Kecamatan Setu juga masuk destinasi.

“Makanya harus kita kemabngkan juga karena tiap hari yang datang ratusan orang,” tambahnya.

Mantan Kepala Dinas Sosial Kota Tangsel tersebut menambahkan, di wilayahnya terdapat 43 hotel dengan peringkat non bintang, bintang 1 hingga 4. Untuk hotel peringkat bintang 4 ada 7 hotel, bintang 3 ada 8 hotel, bintang 2 ada 5 hotel, bintang 1 ada 3 hotel. Sedangkan non bintang ada 18 hotel.

“Sebarannya di Kecamatan Serpong ada 13 hotel, Serpong Utara 11 hotel, Pondok Aren 10 hotel, Ciputat 5 hotel dan Ciputat Timur ada 5 hotel,” jelasnya.

Sementara itu, untuk restoran dibagi dua jenis, yakni rumah makan ada 2.614 dan cafe 118 dan total ada 2.732. Tempat hiburan dan rekreasi ada 137 (area permainan, karaoke, bioskop, kolam renang, sport center atu fitnes, biliar, futsal dan golf). “Sedangkan massage, spa dan rumah pijat ada 95,” tutupnya. (*)

Pos terkait