SMPN 2 Sosialisasi Bahaya Bullying di Sekolah

SMPN 2 Jayanti saat menggelar sosialisasi anti bullying di sekolah dalam rangka mencegah adanya bullying di sekolah. Randy/Bantenekspres.co.id

JAYANTI,BANTENEKSPRES.CO.ID – Dalam rangka mencegah adanya bullying di sekolah, SMPN 2 Jayanti, Kecamatan Jayanti, menggelar sosialisasi anti bullying di sekolah dengan menggandeng pesikologi M. Novita Dewi untuk memberikan arahan kepada siswa bahaya bullying.

Dalam kegiatan tersebut, semua siswa mengikuti tanpa terkecuali. Bahkan, siswa memperhatikan semua materi yang di berikan oleh pembicara baik dari sekolah ataupun dari psikologi yang menjadi pemateri dalam sosialisasi tersebut. Karena, penting bagi siswa mengikuti sosialisasi tersebut agar tidak ada aksi bullying di sekolah.

Bacaan Lainnya

Kepala SMPN 2 Jayanti Suparti mengatakan, sosialisasi yang dilakukan sangat penting bagi siswa, pentingnya adalah memberikan informasi dampak bullying bagi pelaku dan korban bullying. Jadi, dengan asosiasi yang diberikan agar siswa paham dan tidak akan melalukan aksi bullying di sekolah ataupun di luar sekolah.

“Sengaja kita lakukan sosialisasi ini agar siswa paham dampak bullying, insyaallah dengan sosialisasi ini siswa paham dan tidak akan ada bullying di sekolah. Jadi, tidak ada yang boleh melakukan bercanda berlebihan atau perkataan yang kurang enak,”ujarnya kepada Bantenekspres.co.id, Senin 6 Oktober 2025.

Suparti menambahkan, pihaknya juga meminta kepada para siswa agar bisa saling jaga dan bisa saling mengingatkan bahwa bullying berawal dari bercanda yang berlebih, saling ejek, dan saling berkata kasar. Untuk itu siswa di larang untuk melakukan hal yang berlebih-lebihan saat bergaul di sekolah.

“Kami pastinya akan terus melakukan pengawasan terhadap para siswa, sehingga mereka akan terawasi dan mereka juga tidak akan melakukan hal yang tidak boleh dilakukan. Sehingga, di SMPN 2 Jayanti tidak ada aksi bullying di sekolah baik kelas berapapun,”paparnya.

Ia menjelaskan, bahwa pihaknya juga terbuka untuk siswa dan berpandangan objektif agar tidak pilih kasih, sehingga siswa bisa merasakan hal sama dan adil. Untuk itu, guru juga diminta untuk selalu objektif kepada siswa agar mereka tidak merasakan sendiri dan merasa di kucilkan.

“Kami selalu terbuka untuk siswa, jika siswa ada masalah selalu kami rangkul agar mengetahui apa masalah yang dialami oleh siswa. Jadi, mereka punya tempat bercerita di luar rumah. Karena mungkin kebanyakan siswa selalu tidak berani bercerita ke orangtua mereka karena takut di marahi ataupun di diamkan, maka itu kami ada untuk siswa agar apa yang jadi masalah siswa bisa kita bantu,”tutupnya. (*)

Pos terkait