Pemkot Tangsel Optimis Sampah dari Tangsel Tetap Dibuang ke Pandeglang

Wakil Wali Kota Tangsel Pilar zsaga Ichsan mengangkat sampah saat melakukan bersih-bersih kawasan Pasar Ciputat beberapa waktu lalu. Tri Budi/Bantenekspres.co.id

SERPONG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Kerjasama antara Pemkot Tangsel dengan Pemkab Pandeglang terkait penanganan sampah tidak berjalan lancar.

Meskipun kedua daerah tersebut telah melakukan perjanjian kerjasama (MoU) namun, masyarakat Kabupaten Pandeglang menolak pembuangan sampah dari Tangsel kewilayahnya meskipun pembuangan sampah ke TPA Bangkonol belum mulai dilakukan.

Bacaan Lainnya

Sesuai rencana sampah dari Kota Tangsel akan dibuang ke Kabupaten Pandeglang akan mulai dibung akhir Agustus ini atau awal September 2025 mendatang. Namun, TPA Bangkonol sampai saat ini belum siap menerima sampah dari Tangsel yang direncanakan tiap hari akan dikirim 500 ton.

Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel Bani Khosyatullah, mengatakan, sesuai rencana sampah dari wilayahnya akan dibuang ke TPA Bangkonol mulai awal Sepetember mendatang namun, terjadi penolakan warga dan di TPA tersebut juga belum siap.

“Kita sementara ini komunikasi terus baik dengan Pemkab Pandeglang sambil melihat situasi kondisi. Yang jelas proses tahapan ini kita lalui melalui mekanisme, baik di Pandegalng maupun di Tangsel karena, kalau melalui ilegal kan sudah jelas risikonya. Makanya kita optimalkan melalui tahapan PKS ini, mudah-mudahan hasilnya sesuai harapan,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Selasa, 26 Agustus 2025.

Bani menambahkan, Pemkab Pandeglang belum bisa mengerjakan atau merapikan TPA Bangkonol lantaran masih menunggu bantuan keuangan (bankeu) dari Pemkot Tangsel ditransfer.

Dimana bankeu yang akan diberikan kepada Pemkab Pandeglang selama 4 tahun kerjasama sebesar Rp40 miliar. Bankeu tersebut akan kirim dalam 3 tahap, yakni tahun pertama Rp20 miliar, tahun kedua Rp15 miliar dan ketiga Rp5 miliar.

“Rencana bankeu kita transfer setelah APBG perubahan diketok palu tapi, kita dengan TAPD Pandegalng sudah siap, koordinasi dan komunikasinya baru transfer,” tambahnya.

“Memang betul transfer bankeu ini mempengaruhi terhadap perbaikan di TPA Bangkonol. Pokoknya mohon doa dan supportnya supaya semua bisa berjalan sesuai harapan. Bankeu berdasarkan PKS sebesar Rp40 miliar,” jelasnya.

Menurutnya, Pemkot Tangsel menargetkan sampah dari Kota Tangsel mulai dikirim akhir Agustus atau awal September mendatang. “Kalau Pandeglang belum siap, sementara mereka penataan dulu. Kan mulainya pengangkutan itukan pasti semuanya, pasti komunikasi terus,” terangnya.

Meskipun TPA Bangkonol belum siap dan belum dilakukan perapihan, pria yang menjabat Kepala Badan Kesbangpol Kota Tangsel tersebut mengaku, sebenarnya melihat kondisi yang ada untuk akses sampai ke TPA tidak ada masalah.

“Tapi, nanti luasnya ditambah namun, sambil menambah perluasan bisa buang sampah dimana dulu. Lahannya itu masih luas yang ada ini, ketinggiannya belum setengah meter. Yang jelas sesuai rencana akan dilakukan penambahan lahan seluas 3,5 hektar,” tuturnya.

Bani berharap semuanya bisa berjalan sesuai harapan. Pemkab Pandeglang juga memiliki alasan mau kerjasama dengan Kota Tangsel terkait pembuangan sampah dari Kota Tangsel. “Bagi Pemkab Pandeglang kerjasama ini pasti penting dan mereka akan melakukan perluasan dan penataan TPA Bangkonol,” ungkapnya.

Selain dengan Pemkab Pandeglang, Pemkot Tangsel juga telah lama menjajaki kerjasama dengan tempat pengelolaan dan pemrosesan akhir sampah (TPPAS)  Lulut Nambo, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Menurutnya, PKS dengan pengelola TPPSA Lulut Nambo telah lama ditandatangani tapi, keterbatasan mesin dan sarana-prasarana membuat kapasitas pembuangan sampah belum maksimal.

“Kan kita sudah kerjasama MoU tapi, TPPAS Lulut Nambo baru siap 10 ton per hari karena prasarana alatnya katanya belum bisa melayani partai besar. Dari 50 ton tiap hari dan salah satunya 10 tonnya buat Tangsel. Pembuangan ini belum berjalan karena kalau 10 ton ini hanya 2 truk dan kita berharap minimal 200 ton per hari,” ungkapnya.

“Target sampah dari Tangsel dibuang ke TPPAS Lulut Nambo ini nunggu kesiapan alatnya disana, kalau kapasitasnya bisa sesuai harapan kita ya kita mulai. Kerjasama di Nambo tidak ada bankeu tapi, adanya tipping fee sebesar Rp250 ribu per ton dan kerjasama ini berlangsung sekitar 2-3 tahun,” tutupnya.

Sementaranitu, Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan, kerja sama dengan Pemprov Jawa Barat terkait pemanfaatan TPSA Lulut Nambo sudah dijalin sejak beberapa tahun lalu.

“MoU kita sudah lama dilakukan dengam Pemprov Jabar dan sampah dari Kota Tangsel akan masuk kesana nantinya akan diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif bagi pabrik Semen Cibinong,” ujarnya.

Pria yang biasa disapa Pak Ben tersebut menambahkan, kapasitas TPSA Lulut Nambo luas dan tiap hari bisa menampung 2.000-2.300 ton. Dengan luas lahan lebih dari 5 hektar dan lokasinya berdekatan dengan pabrik Semen Cibinong, menjadikan kawasan tersebut strategis.

“Kami menunggu kepastian dari Pemprov Jabar dan pengelola Lulut Nambo untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah. Dan kita targetkan tiap hari dapat mengirim 500 ton sampah ke TPPSA Lulut Nambo,” tutupnya. (*)

Reporter: Tri Budi

 

 

Pos terkait