WARINGINKURUNG,BANTENEKSPRES.CO.ID – Besok, Senin, 18 Agustus 2025 ditetapkan sebagai hari cuti bersama dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Tentu kesempatan tersebut tak akan disia-siakan oleh warga yang sudah berencana berwisata.
Ada tiga tujuan wisata atau destinasi perdesaan di Kabupaten Serang yang mungkin bisa dijadikan referensi Anda berlibur. Dikutip dari jadesta.kemenparekraf.go.id, ketiga destinasi tersebut sebagai berikut.
- Desa Wisata Padarincang
Desa wisata ini berada di Desa Padarincang, Kecamatan Padarincang. Daya tarik desa wisata ini adalah keindahan alam, warisan budaya, dan tempat wisata buatan.
Destinasi alam di desa ini berupa Sungai Cikalumpang, air terjun Curug Cigumawang, kolam renang alami mata air Cipalias.
Destinasi budaya di desa ini antara lain berupa pertunjukan pencak silat TTKDH, rudat/terbang, dan rebana.
Adapun wisata buatan antara lain berupa kreasi makanan khas daerah setempat seperti surubaha, kue jajorong, pais solempat, kue macan ketawa, pindang ikan khas Parigi, dan keripik kulit tangkil.
Lantas, emping jengkol, emping melinjo, keripik pisang, getuk pisang, getuk rajiin, ancemon, bubur jodo, salimut/begog, dan kue moho.
Di desa ini juga terdapat wisata souvenir yaitu pembuatan lampu hias dari bambu, vas bunga dari sampah, peci rajut dari kulit kayu Benda, dan kerajinan tangan dari tempurung kelapa.
- Desa Wisata Curuggoong
Desa wisata ini berada di Desa Curuggoong, Kecamatan Padarincang. Potensi wisata yang ada di desa ini berupa warisan kebudayaan, kesenian, kerajinan dan keindahan alam.
Detinasi wisata yang ada di desa ini di antaranya air terjun Curuggoong, pemandian alam Cirahab, agrowisata durian bumi Ciseuti, eduwisata kebun batik Tedjo, dan wisata kuliner Dapur Uwa.
- Desa Wisata Cikolelet
Desa wisata ini berada di Desa Cikolelet, Kecamatan Cinangka. Desa wisata ini memiliki empat potensi wisata.
Pertama, tradisi budaya, yaitu pawai budaya, tradisi budaya ngaguran dano, tradisi prahprahan, ngayun, mamaca, nukuh dan ngiring panganten, dan moro (berburu binatang/hama tanaman).
Kedua, kesenian tradisional berupa seni calung, kendang pencak silat, seni rudat, rampak qasidah, kasidah, dan mawaris.
Ketiga, objek wisata alam dan buatan, seperti kampung ekraf (kampung kopo) puncak Cibaja, puncak Pilar, air terjun Curug Lawang, air terjun Curug Kembar, jembatan pelangi Ciraab, dan jalur/trak sepeda gunung dan motor trail.
Keempat, ekraf dan kulier, seperti produksi susu kampung Etawa, budidaya telur puyuh, budidaya jamur tiram, pembuatan emping melinjo, produksi kopi lokal (Robusta Karuhun), penyulingan minyak sereh, perajin relief taman dan pot, makanan ceplis, dendeng ikan lele dan limbat, dan makan olahan berbahan jamur tiram. (*)
Penulis: Sutanto











