Dekan Fakultas Kedokteran UMT: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Tembus Saluran Napas, Waspadalah!

Dekan Fakultas Kedokteran UMT: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Tembus Saluran Napas, Waspadalah!
dr. Eni Nuraini, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT). Foto Ahmad Syihabudin/Bantenekspres.co.id

TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) perlu diwaspadai masyarakat. Partikel abu yang sangat halus berpotensi masuk ke saluran pernapasan hingga bagian bawah dan mengganggu kesehatan.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), dr. Eni Nuraini mengatakan, ukuran partikel abu vulkanik yang sangat kecil membuatnya mudah terhirup.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, abu vulkanik tidak hanya dapat masuk ke saluran pernapasan bagian atas, tetapi juga dapat mencapai saluran pernapasan bagian bawah.

“Partikelnya sangat kecil dan bisa masuk ke saluran pernapasan, baik saluran pernapasan bagian atas maupun bawah. Ini bisa membahayakan,” ujar dr. Eni kepada Banten Ekspres, Jum’at 11 September 2026 di kampung UMT.

Karena itu, masyarakat diimbau melakukan langkah pencegahan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Salah satunya dengan menggunakan masker yang memiliki tingkat perlindungan lebih baik, seperti KN95 atau KF94.

dr. Eni menjelaskan, tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme alami untuk menyaring benda asing yang masuk melalui hidung. Salah satunya melalui bulu hidung dan rambut-rambut halus yang terdapat di saluran pernapasan.

Namun, mekanisme tersebut tidak sepenuhnya mampu menyaring partikel abu vulkanik yang berukuran sangat kecil.

“Karena terlalu kecil, abu tersebut bisa lolos dan masuk ke saluran pernapasan sampai ke bagian bawah. Jadi tetap sebaiknya menggunakan masker ketika berada di luar rumah,” jelasnya.

Selain penggunaan masker, masyarakat juga diminta memperhatikan cara membersihkan abu vulkanik yang menempel di lingkungan sekitar.

dr. Eni menyarankan agar abu tidak langsung disapu atau dilap dalam kondisi kering. Abu sebaiknya terlebih dahulu disiram dengan air agar tidak beterbangan dan terhirup.

“Kalau ada debu-debu, jangan langsung dielap atau disapu. Siram dulu dengan air. Kalau disiram, debu menjadi berat sehingga tidak mudah terbang dan masuk ke saluran pernapasan,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh dengan mencukupi kebutuhan air minum dan mengonsumsi makanan bergizi.

Masyarakat juga disarankan mengurangi konsumsi makanan cepat saji atau junk food. Bagi perokok, kebiasaan merokok juga sebaiknya dikurangi, terutama di tengah kondisi udara yang berpotensi terpapar abu vulkanik.

Di sisi lain, dr. Eni menyampaikan, UMT saat ini tengah mempersiapkan pendirian Fakultas Kedokteran. Salah satu fokus yang dikembangkan adalah pendekatan promotif dan preventif terhadap penyakit saluran pernapasan.

Menurutnya, kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi momentum bagi perguruan tinggi untuk ikut berperan dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

“Kami (UMT,red) mudah-mudahan bisa ikut membantu mengedukasi masyarakat, terutama masyarakat di sekitar universitas, untuk mencegah dampak erupsi ini, khususnya abu vulkanik yang sangat mudah masuk dan memang tidak terlihat,” tuturnya.

Ia berharap erupsi Gunung Anak Krakatau dan berbagai dampaknya dapat segera berakhir serta tidak menimbulkan dampak berkepanjangan terhadap kesehatan maupun perekonomian masyarakat.

“Semoga musibah erupsi Gunung Anak Krakatau segera selesai dan dampaknya tidak panjang, baik dampak secara kesehatan maupun ekonomi,” pungkasnya. (*)

Pos terkait