SERPONG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pemkot Tangsel dinilai perlu memperkuat fasilitasi terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya pelaku usaha mikro yang masih memiliki keterbatasan dalam memasarkan produknya.
Hal tersebut disampaikan Pendiri Gerai Lengkong yang juga sebagai pembina UMKM Kota Tangsel Lista Hurustiati dalam menanggapi pelaksanaan Car Free Day (CFD) di Kota Tangsel yang turut menjadi ruang bagi ratusan pelaku UMKM untuk memasarkan produknya kepada masyarakat.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya menyediakan tempat berjualan. Dukungan juga perlu diberikan melalui kegiatan yang mampu mendatangkan masyarakat sebagai calon pembeli.
“Sebetulnya pemerintah itu hadir. Pemerintah itu memfasilitasi. Karena UMKM ini kan pengusaha dari mikro, kecil. Kalau menengah mungkin mereka sudah punya fasilitas sendiri. Penjualannya bisa melalui online dan sebagainya,” ujarnya kepada BANTENEKSPRES.CO.ID, Minggu, 6 September 2026.
Lista menilai pelaku usaha mikro membutuhkan ruang promosi secara langsung karena tidak semua memiliki kemampuan dan fasilitas pemasaran seperti pelaku usaha yang lebih besar.
Salah satu peluang yang dapat dikembangkan, menurutnya, adalah menjadikan CFD sebagai agenda rutin yang memberikan ruang bagi UMKM untuk berjualan sekaligus memperkenalkan produk mereka.
“Berapa ribu orang yang hadir kan pada saat CFD, tiga jam saja. Jadi nanti bisa terkalkulasi mungkin sama pemerintah. Mereka pasti ada list nama masing-masing pengusahanya, masing-masing UMKM-nya. Penghasilan mereka berapa dalam tiga jam, itu sebulan sekali,” tambahnya.
Menurutnya, apabila kegiatan tersebut dikembangkan lebih rutin, potensi perputaran ekonomi yang dirasakan UMKM juga akan semakin besar. Bahkan, kegiatan serupa dapat dikembangkan pada malam hari dengan konsep wisata kuliner.
Ia mencontohkan kegiatan pasar malam di sejumlah wilayah di Kota Tangerang yang memanfaatkan ruas jalan tertentu untuk memberikan ruang kepada pedagang berjualan pada sore hingga malam hari.
“Kalau diadakan seminggu sekali tentu bagus. Jamnya juga diatur. Minimal kan pelaku UMKM bisa menambah penghasilan,” jelasnya.
Ia menilai kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi destinasi wisata kuliner apabila dikemas secara konsisten. Masyarakat yang ingin menghabiskan waktu pada malam hari bisa diarahkan untuk datang, melihat produk UMKM, membeli makanan maupun menikmati suasana.
“Daripada keluar Tangsel, ya sudah. Jadinya wisata kuliner di Tangsel saja,” tuturnya.
Namun, ia menekankan pemerintah perlu menjadi penggerak utama. Selain menyediakan lokasi, pemerintah juga perlu membuat berbagai kegiatan pendukung, mendatangkan masyarakat, serta mendorong aparatur sipil negara (ASN) untuk ikut membeli produk UMKM lokal.
“Pemerintah juga harus mewajibkan berapa PNS yang ada di Kota Tangsel. Mereka juga harus ikut membantu, membeli, bukan hanya memfasilitasi tempat, setelah itu dia lepas,” ungkapnya.
Menurutnya, jika dilakukan secara berkelanjutan, dukungan tersebut dapat menciptakan efek berantai bagi pelaku UMKM. Event yang ramai akan menarik semakin banyak pengunjung, kemudian meningkatkan transaksi dan membuat semakin banyak pelaku usaha tertarik ikut serta.
Lista juga mendorong adanya kolaborasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dan termasuk pihak swasta. Menurutnya, Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Koperasi dan UMKM perlu duduk bersama menyusun konsep yang terintegrasi.
“Karena kita di sini ada Dinas Perindustrian dan Perdagangan, ada Dinas Koperasi UMKM. Harusnya tiga dinas ini berkolaborasi, berkoordinasi. Bagaimana ini bisa berjalan,” tutupnya. (*)











