TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Dunia pendidikan tidak sekadar mencetak generasi yang pintar secara akademik, melainkan membentuk manusia yang berakhlak mulia. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Bahrul, seorang pendidik berdedikasi tinggi yang kini mengemban amanah sebagai Kepala Sekolah di SD Negeri Poris Gaga 3, Kota Tangerang.
Bahrul yang lahir dari latar belakang pendidikan pondok pesantren, di balik kesahajaannya, ia menyimpan perjalanan panjang di dunia pendidikan yang berakar kuat dari dunia pesantren dan keagamaan. Ia meniti jalan pendidikan dengan Hati.
“Saya dibesarkan di pondok pesantren. Mulai dari Madrasah Al-Tohiriyah Serang, Al-Ihsan Bandung, hingga Al-Mardhiyah Cileunyi Bandung,” ungkap Bahrul saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.
Semangat belajarnya terus berlanjut hingga ia meraih gelar sarjana dari Iain Sunan Gunung Jati, Bandung dan kemudian melanjutkan pendidikan Strata Dua (S2) di Pendidikan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta dengan fokus pada manajemen pendidikan Islam.
Sebelum memimpin SDN Poris Gaga 3, Bahrul telah malang melintang mengajar di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari tingkat SMP, SMA, hingga SMK dan sempat mengabdi sebagai guru agama di era honorer sebagai guru bantu.
Pengalaman panjangnya ini membentuk dirinya menjadi sosok pemimpin yang matang dalam dunia pendidikan. Selain fokus di dunia sekolah, jiwa organisasinya juga sangat menonjol. Saat ini, Bahrul dipercaya menjabat sebagai Ketua Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Kota Tangerang (AKPAI) periode kedua, sebuah wadah pengabdian yang menyatukan para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dari jenjang TK hingga tingkat menengah.
“AKPAI ini yang dibawah naungan Dinas Pendidikan saja, ini jalan periode kedua,” katanya.
Sebagai seorang kepala sekolah yang sarat pengalaman, Bahrul memiliki pandangan yang kuat mengenai pentingnya ekosistem pendidikan anak. Menurutnya, sekolah hanyalah salah satu tempat pembentukan, sementara porsi terbesar waktu anak berada di lingkungan keluarga dan masyarakat.
“Waktu anak di sekolah itu tidak lama, paling sekitar 5 sampai 6 jam sehari. Selebihnya, mereka berada di lingkungan keluarganya, di lingkungan rumahnya dan berinteraksi dengan masyarakat. Maka, pendidikan yang maksimal dan berhasil harus lahir dari kolaborasi erat antara orang tua dan sekolah,” tegas Bahrul.
Ia menekankan, bahwa orang tua tidak boleh sepenuhnya menyerahkan tanggung jawab pembentukan karakter anak kepada guru di sekolah. Sekolah berfungsi layaknya “bengkel” yang meluruskan atau memperbaiki pondasi, sementara rumah adalah tempat utama penanaman nilai moral yang sesungguhnya.
Dalam menerapkan metode pengajaran dan pembinaan, Bahrul kerap mengutip nilai-nilai dari kitab Ta’limul Muta’allim yang memuat empat pilar penting dalam mendidik anak agar sukses dan berakhlak mulia, yakni Keteladanan. Seorang pendidik, baik guru maupun orang tua harus menjadi contoh utama sebelum menuntut anak untuk berlaku jujur, disiplin, atau taat beribadah. Terlebih penerapan pembiasaan. Dalam menerapkan pendidikan karakter tidak bisa instan. Pembiasaan nilai-nilai kebaikan seperti shalat dan kedisiplinan harus ditanamkan sejak dini, bahkan merujuk pada tuntunan hadis Nabi agar anak dibiasakan sejak usia 7 tahun.
“Nah yang terpenting dalam mendidik anak sekarang ini harus dengan cara persuasif. Pola didik otoriter sudah tidak relevan di era digital saat ini. Guru maupun orang tua harus mengedepankan pendekatan persuasif dan dialogis dari hati ke hati, kuncinya itu,” ujarnya.
Ia juga menekankan pengawasan yang ketat terhadap anak-anak terhadap lingkungannya. Di tengah arus digitalisasi dan gawai (HP), pengawasan orang tua terhadap pergaulan anak menjadi benteng terakhir agar anak tidak terjerumus ke dalam pengaruh yang salah. Menurut dia, bahwa mendidik anak di era digital memerlukan kesabaran ekstra. Karakter anak masa kini diibaratkan seperti “memegang belut” semakin ditekan dengan cara kasar, mereka akan semakin melawan atau terlepas.
“Maka itu, pendekatan humanis, komunikasi intensif kami terapkan melalui kegiatan parenting bersama orang tua, serta pengawasan pergaulan anak-anak itu sendiri,” katanya.
Melalui kepemimpinannya yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dan humanis, ia berharap, SDN Poris Gaga 3 tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang kokoh secara mental, bermoral, dan siap menghadapi tantangan zaman.(*)











