Mengaku Tak Pernah Dapat PKH Rutin, Ibu di Kemiri Tangerang Tinggal di Gubuk Bekas Walet dan Masuk Desil 5

Seorang ibu di Kemiri, Tangerang, tinggal di gubuk bekas walet namun tercatat di Desil 5 DTKS. Pegiat sosial mendesak verifikasi lapangan agar dapat PKH. Foto: Pegiat Sosial Marnan Sarbini

 

KEMIRI,BANTENEKSPRES.CO.ID – Nasib pilu menimpa Magfiroh, warga Kampung Benyawakan RT 05 RW 06, Desa Klebet, Kecamatan Kemeri, Kabupaten Tangerang.

Bacaan Lainnya

Bersama anak-anaknya, ia harus bertahan hidup di sebuah gubuk prihatin yang dulunya merupakan tempat budidaya sarang burung walet.

Ironisnya, di tengah kondisi tempat tinggal yang tidak layak, Magfiroh justru tercatat masuk dalam desil 5 pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Kategori tersebut membuat haknya untuk menerima program perlindungan sosial pemerintah terhambat.

Magfiroh mengaku tidak pernah menerima Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan sembako secara rutin dan hanya pernah mendapatkan bantuan satu kali pada 2025 lalu.

Beban hidup keluarga ini makin berat lantaran anak pertamanya terpaksa putus sekolah akibat menderita tumor mata.

Meski sudah menjalani operasi pada 2025 berkat uluran tangan dermawan asal Jakarta, kebutuhan medis dan biaya sekolah tiga anaknya yang lain, yang masih duduk di bangku SD dan PAUD terus mencekik.

Ketidaksesuaian antara data administratif dan kondisi riil ini memantik reaksi keras dari pegiat sosial, Marnan Sarbini.

Pihaknya mendesak instansi terkait untuk segera melakukan pemutakhiran data secara langsung ke lokasi.

“Jangan hanya melihat data di atas kertas. Datang langsung ke rumahnya, lihat kondisi tempat tinggal dan kehidupan keluarganya. Kalau memang ada ketidaksesuaian antara data dengan kondisi faktual, segera lakukan verifikasi dan pemutakhiran,” ujar Marnan, Kamis dalam keterangannya, Kamis, 20 Agustus 2026.

Marnan menegaskan agar pihak terkait tidak hanya mengandalkan sistem, melainkan wajib hadir secara nyata untuk memastikan kriteria penerima bansos tepat sasaran.

“Yang paling penting sekarang adalah turun ke lapangan. Lihat kondisi sebenarnya, lakukan pendataan ulang dan pastikan keluarga yang memang membutuhkan tidak terlewat dari program pemerintah,” pungkasnya. (*)

 

Pos terkait