SEPATAN,BANTENEKSPRES.CO.ID – SMPN 1 Sepatan, Kecamatan Sepatan, menggelar deklarasi budaya sekolah aman dan nyaman sebagai bentuk komitmen bersama dalam mencegah terjadinya perundungan (bullying), pelecehan, serta berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah. Deklarasi tersebut menjadi langkah nyata sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah bagi seluruh peserta didik.
Deklarasi diikuti oleh seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga seluruh siswa. Dengan penuh semangat, mereka mengikrarkan komitmen untuk menolak segala bentuk bullying, pelecehan, kekerasan verbal maupun fisik, serta tindakan yang dapat mengganggu kenyamanan proses belajar mengajar.
Kepala SMPN 1 Sepatan Rizky Amalia mengatakan, bahwa sekolah harus menjadi tempat yang memberikan rasa aman bagi seluruh siswa. Menurutnya, tidak boleh ada satu pun peserta didik yang merasa takut datang ke sekolah karena menjadi korban perundungan ataupun tindakan yang merendahkan martabat mereka.
“Melalui deklarasi ini kami ingin menegaskan bahwa SMPN 1 Sepatan adalah sekolah yang menolak keras segala bentuk bullying, pelecehan, intimidasi, maupun kekerasan dalam bentuk apa pun. Sekolah harus menjadi rumah kedua bagi siswa, tempat mereka belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut,” ujar Rizky kepada Bantenekspres.co.id, Senin 20 Juli 2026.
Ia menegaskan, budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta saling menjaga harus terus ditanamkan kepada seluruh warga sekolah sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Kami ingin membangun budaya sekolah yang saling menghargai. Tidak boleh ada ejekan, penghinaan, pengucilan, ataupun tindakan yang membuat teman merasa tidak nyaman. Hal-hal seperti itu sering dianggap sepele, padahal dapat berdampak besar terhadap kondisi psikologis siswa,” katanya.
Rizky menambahkan, pihak sekolah tidak akan memberikan toleransi terhadap pelaku bullying. Apabila ditemukan adanya tindakan perundungan, sekolah akan melakukan penanganan sesuai aturan yang berlaku dengan tetap mengedepankan pembinaan dan pendidikan karakter.
“Kami akan menindak tegas setiap pelaku bullying. Tidak ada ruang bagi perilaku tersebut di SMPN 1 Sepatan. Bullying bukan sesuatu yang bisa dinormalisasi ataupun dianggap sebagai bercanda. Semua tindakan yang menyakiti orang lain harus dihentikan,” tegasnya.
Menurutnya, keberhasilan menciptakan sekolah yang aman bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga seluruh siswa.
“Kami mengajak seluruh siswa untuk menjadi pelopor kebaikan. Jadilah teman yang saling menguatkan, saling membantu, dan saling melindungi. Jangan menjadi penonton ketika melihat ada teman yang menjadi korban perundungan. Beranilah untuk peduli dan segera laporkan kepada guru agar dapat ditangani dengan cepat,” ujarnya.
Rizky juga meminta para siswa agar tidak takut melaporkan apabila mengalami maupun menyaksikan tindakan bullying.
“Kami menjamin setiap laporan akan ditindaklanjuti dengan serius. Jangan takut melapor karena sekolah hadir untuk melindungi seluruh peserta didik. Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat pula kami bisa mengambil langkah penyelesaian sehingga tidak menimbulkan dampak yang lebih besar,” katanya.
Lebih lanjut, ia berharap deklarasi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.
“Kami ingin nilai-nilai saling menghormati, saling menghargai, dan saling menjaga menjadi budaya yang melekat dalam diri setiap siswa. Dengan karakter yang baik, mereka tidak hanya menjadi pelajar yang berprestasi, tetapi juga menjadi pribadi yang berakhlak mulia,” tutupnya. (*)
Reporter: Randy Yastiawan











