RAJEG,BANTENEKSPRES.CO.ID – SDN Sukatani 1 Rajeg, Kabupaten Tangerang, tengah menghadapi krisis jumlah tenaga pendidik.
Kurangnya guru Aparatur Sipil Negara (ASN), baik PNS maupun PPPK, membuat sejumlah guru terpaksa mengampu dua rombongan belajar (rombel) sekaligus.
Kondisi ini pun berdampak langsung pada optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) hingga rencana pengurangan kuota penerimaan siswa baru.
Kepala SDN Sukatani 1 Rajeg Bahrul Ulum mengungkapkan, saat ini sekolah yang dipimpinnya memiliki 19 rombel yang hanya diampu oleh 13 orang guru.
“Rasio saat ini 19 rombel dengan 13 guru, dan 2 tahun depan ada 3 guru yang akan pensiun,” ujar Bahrul Ulum saat diwawancarai wartawan, Jumat, 16 Oktober 2026.
Masalah kekurangan guru di SDN Sukatani 1 Rajeg diprediksi akan semakin berat dalam beberapa tahun ke depan.
Meskipun dalam 1-3 tahun terakhir baru ada 1 guru yang memasuki masa purna tugas, daftar guru yang akan pensiun secara beruntun sudah di depan mata.
Bahrul merinci estimasi guru yang akan pensiun hingga akhir dekade ini meliputi, Raden R Cucu Cakra Kusuma (Pensiun November 2026), Sri Hartati dan Ai Fatimah yang saat ini keduanya memegang 2 rombel (2027), Romlah (2029), serta Sundari (2030).
Untuk menyiasati kekosongan tenaga pendidik saat ini maupun di masa mendatang, pihak sekolah mengaku hanya bisa bersikap pasif.
“Kami menunggu kiriman guru dari Dinas Pendidikan atau pemerintah,” tutur Bahrul.
Untuk menjaga proses belajar mengajar tetap berjalan, SDN Sukatani 1 menugaskan beberapa guru untuk memegang dua rombel sekaligus.
Bahrul menjelaskan, langkah ini dilakukan dengan tetap mengacu pada peraturan yang berlaku.
“Selama masih mengajar dua rombel, Jam Mengajar (JP) tetap diatur kurang dari atau sama dengan 40 jam per pekan, mengacu pada Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru,” jelasnya.
Kendati secara regulasi memungkinkan, Bahrul tidak menampik beban mengajar ganda ini memengaruhi efektivitas pembelajaran di kelas.
Guru yang harus membagi fokus untuk dua kelas dinilai tidak bisa memberikan kinerja yang optimal.
Krisis tenaga pendidik ini memaksa pihak sekolah mengambil langkah ekstrem untuk menjaga kualitas dan beban kerja guru di masa depan.
Pada tahun pelajaran 2027/2028, SDN Sukatani 1 Rajeg merencanakan hanya akan menerima 1 rombel murid baru.
Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya sekolah ini rutin membuka 3 rombel untuk siswa kelas 1.
Kebijakan pemangkasan kuota ini dipastikan akan memicu antrean dan persaingan ketat saat Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
“Bahkan saat membuka 3 rombel saja, kami terpaksa menolak sekitar 150 calon siswa saat SPMB. Dengan rencana penerimaan 1 rombel nanti, tentu daya tampung akan semakin terbatas,” pungkas Bahrul. (*)
Reporter: Zakky Adnan












