TIGARAKSA, BANTENEKSPRES.CO.ID – Sebelum gerbang sekolah kembali ramai oleh tawa anak-anak, ada masa ketika halaman SDS Dewi Supraba Tigaraksa lebih sering dipenuhi kecemasan. Ruang-ruang kelas yang dibangun dengan harapan perlahan kehilangan penghuninya. Bangku-bangku kosong menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan, wacana menutup sekolah pernah menjadi pilihan paling pahit yang harus dipikirkan. Namun, sekolah yang berdiri sejak tahun 2006 itu memilih bertahan.
Di balik dinding-dinding sederhana SDS Dewi Supraba Tigaraksa, ada perjuangan panjang para guru dan pengurus yayasan yang tidak rela melihat satu-satunya harapan pendidikan bagi sebagian warga sekitar menghilang begitu saja. Mereka percaya, selama masih ada satu anak yang ingin belajar, sekolah ini harus tetap berdiri.
Perjalanan itu tidak mudah. Kehadiran sekolah negeri di sekitar wilayah Tigaraksa membuat jumlah peserta didik terus menurun. Keterbatasan fasilitas menjadi tantangan yang semakin berat. Satu per satu masyarakat memilih sekolah lain yang dianggap memiliki sarana lebih baik. Titik terendah itu dirasakan ketika jumlah siswa terus menyusut. Masa depan sekolah seolah berada di ujung tanduk.
Ketua Yayasan SDS Dewi Supraba Tigaraksa Parsono masih mengingat jelas bagaimana kondisi sekolah saat dirinya mulai bergabung pada tahun 2015. Saat itu, sekolah berada dalam kondisi yang memprihatinkan dengan hanya memiliki 28 siswa.
“Dulu waktu saya masuk tahun 2015, sekolah ini benar-benar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Bangunan seadanya, jumlah siswa hanya 28 orang. Bahkan kami sempat berpikir apakah sekolah ini masih bisa bertahan atau tidak. Tetapi saya dan seluruh dewan guru sepakat, kami tidak boleh menyerah. Selama masih ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan, sekolah ini harus tetap hidup,” kenang Parsono kepada Bantenekspres.co.id, Jumat 17 Juli 2026.
Menurutnya, bertahan bukan sekadar menjaga bangunan sekolah tetap berdiri, tetapi menjaga harapan masyarakat agar tetap memiliki akses pendidikan yang layak.
Setiap hari para guru tetap mengajar dengan penuh semangat, meski jumlah murid sedikit. Mereka tidak pernah mengurangi kualitas pembelajaran hanya karena keterbatasan yang dimiliki sekolah.
“Kami sadar sekolah ini bukan sekolah yang mewah. Sarana dan prasarana kami sangat terbatas. Keuangan yayasan juga sangat minim. Banyak masyarakat yang ragu menyekolahkan anaknya karena melihat kondisi sekolah. Tapi kami tidak pernah berhenti melakukan perbaikan sedikit demi sedikit,” ujar Parsono.
Mayoritas siswa SDS Dewi Supraba Tigaraksa berasal dari keluarga kurang mampu, terutama dari kawasan Puri 1 dan Puri 2. Bagi banyak orang tua, sekolah ini menjadi harapan agar anak-anak mereka tetap bisa memperoleh pendidikan tanpa harus terbebani biaya yang tinggi.
Harapan besar akhirnya datang pada tahun 2025 ketika Pemerintah Kabupaten Tangerang meluncurkan Program Sekolah Gratis bagi sekolah swasta yang memenuhi persyaratan. Program tersebut menjadi titik balik perjalanan SDS Dewi Supraba Tigaraksa.
Bantuan subsidi pendidikan yang diberikan pemerintah kepada siswa dan sekolah menghadirkan optimisme baru. Masyarakat mulai kembali melirik sekolah tersebut. Kepercayaan yang sempat memudar perlahan tumbuh kembali.
“Bagi kami, Program Sekolah Gratis bukan hanya soal bantuan biaya pendidikan. Program ini menyelamatkan sekolah kami. Kalau program ini tidak ada, mungkin hari ini SDS Dewi Supraba sudah tinggal cerita. Alhamdulillah, sekarang sekolah kembali hidup, masyarakat mulai percaya lagi, dan jumlah siswa terus bertambah,” ungkap Parsono dengan mata berbinar.
Perubahan itu mulai terlihat dari jumlah peserta didik yang meningkat. Kini SDS Dewi Supraba Tigaraksa memiliki 66 siswa yang tersebar di seluruh rombongan belajar.
Suasana sekolah pun kembali hidup. Tawa anak-anak terdengar di setiap sudut sekolah. Guru-guru kembali memiliki semangat baru untuk mengembangkan berbagai program pembelajaran. Meski demikian, perjuangan belum sepenuhnya selesai.
Dari total 66 siswa, baru 53 siswa yang menerima subsidi Program Sekolah Gratis sebesar Rp100 ribu per bulan. Sementara 13 siswa lainnya belum bisa memperoleh bantuan karena terkendala administrasi kependudukan.
Sebagian besar merupakan anak-anak dari keluarga perantau yang belum memiliki Kartu Keluarga Kabupaten Tangerang, padahal dokumen tersebut menjadi salah satu syarat untuk menerima bantuan.
“Kami berharap persoalan administrasi ini bisa segera terselesaikan. Anak-anak ini sama-sama belajar di sini, sama-sama memiliki hak mendapatkan pendidikan. Mereka bukan tidak layak menerima bantuan, hanya terkendala dokumen kependudukan. Mudah-mudahan ke depan ada solusi terbaik,” kata Parsono.
Baginya, perjuangan membangun sekolah tidak hanya soal menambah jumlah siswa, tetapi menjaga mimpi anak-anak agar tidak berhenti hanya karena keterbatasan ekonomi.
“Saya selalu mengatakan kepada para guru, jangan pernah lelah mendidik. Sekolah ini pernah hampir tutup, tetapi hari ini masih berdiri karena semangat kebersamaan. Selama kami masih diberi kepercayaan oleh masyarakat dan didukung pemerintah, kami akan terus berjuang memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. Mereka adalah masa depan Kabupaten Tangerang,” tegasnya.
Kisah SDS Dewi Supraba Tigaraksa menjadi bukti bahwa sebuah sekolah tidak hanya dibangun oleh tembok dan ruang kelas, tetapi oleh keteguhan orang-orang yang menolak menyerah. Ketika harapan nyaris padam, semangat para guru, dukungan yayasan, serta hadirnya Program Sekolah Gratis dari Pemerintah Kabupaten Tangerang berhasil menghidupkan kembali sekolah yang pernah berada di ambang penutupan.
Kini, di halaman sekolah yang dahulu nyaris sepi, suara anak-anak kembali menggema. Sebuah pertanda bahwa harapan itu masih ada, dan pendidikan akan selalu menemukan jalannya bagi mereka yang tidak pernah berhenti berjuang. (*)










