TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Suasana di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) Mitra SPPG Desa Ranca Labuh, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang, senyap.
Hal tersebut seiring langkah kaki anak-anak sekolah yang memasuki masa liburan, aktivitas di dapur andalan ini pun ikut ‘mati suri’.
Bagi Endang, salah satu mitra SPPG di Desa Ranca Labuh, masa libur sekolah berarti jeda total bagi operasional memasak.
Kendati demikian, bukan berarti area dapur ditinggalkan begitu saja tanpa penghuni.
“Kondisi MBG masa libur aktivitas total karyawan (relawan) berhenti. Namun, perawatan dapur tetap berjalan,” ujar Endang saat diwawancarai, Minggu, 28 Juni 2026.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa seluruh fasilitas dapur tetap baik untuk menunjang operasi dapur.
Sehingga, begitu hari pertama masuk sekolah tiba, dapur sudah berada dalam kondisi prima.
Sayangnya, jeda operasional ini membawa konsekuensi kurang menyenangkan bagi para juru masak dan relawan.
Demi efisiensi, Endang mengaku terpaksa mengambil kebijakan pahit.
“Nasib tenaga kerja MBG dirumahkan (sementara),” ungkapnya lirih.
Beruntung, dari sisi manajemen logistik, pihak pengelola tidak perlu pusing memikirkan bahan makanan yang membusuk.
Endang menjelaskan, pihaknya berhasil menghabiskan seluruh pasokan tepat sebelum hari libur tiba, sehingga tidak ada stok bahan baku yang tersisa di gudang.
Saat ditanya mengenai proyeksi ke depan, Endang optimistis dapurnya tidak akan gagap saat menyambut tahun ajaran baru.
“Kesiapan dapur untuk operasional, insyaallah siap,” tegasnya.
Liburnya program MBG tidak hanya berdampak pada internal dapur, tetapi juga sedikit merembet ke para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang menjadi penyuplai bahan baku.
Salah satunya adalah Nanang, bos tahu asal Tasikmalaya yang beroperasi di kawasan Kukun, Rajeg.
Sebagai salah satu pemasok protein nabati untuk program ini, Nanang tak menampik adanya penurunan omzet.
“Cuman turun dikit dari omzet biasanya. Ya paling (turun) 30 papan. Kalau dirupiahkan sekitar Rp1.200.000 (per hari),” urai Nanang membeberkan hitung-hitungan dampaknya.
Nanang rupanya tidak mengurangi jam kerja karyawan, sebab Nanang sejak awal memperkuat akar bisnisnya di sektor non pemerintah.
“Ya kalau untuk dapur MBG mah enggak terlalu membawa pengaruh besar. Tetap yang diutamakan mah pasar lokal atau pasar tradisional,” pungkas Nanang dengan nada optimis.
Tantangan ke depan bagi pemerintah dan pengelola program adalah bagaimana merancang regulasi atau kegiatan alternatif bagi para pekerja dapur dan mitra UMKM saat masa libur panjang tiba.
Dengan begitu, roda ekonomi mereka bisa tetap berputar stabil, sewangi aroma masakan yang dinanti anak-anak sekolah selepas liburan usai. (*)











