TANGERANG, BANTENEKSPRES.CO.ID – Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan daya beli masyarakat.
Pengamat Ekonomi Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Muljadi, mengatakan penguatan dolar AS dipengaruhi tingginya suku bunga di Amerika Serikat yang membuat mata uang tersebut semakin diminati investor global.
“Investor saat ini lebih banyak memburu dolar AS karena dianggap lebih menguntungkan dan aman. Akibatnya, permintaan dolar meningkat dan nilainya semakin menguat,” kata Muljadi, Minggu 7 Juni 2026.
Menurutnya, arus modal dari negara berkembang menuju aset safe haven di Amerika Serikat turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain faktor eksternal, Muljadi juga menyoroti kondisi domestik, terutama defisit neraca pembayaran Indonesia yang masih cukup tinggi. Kondisi itu membuat kebutuhan pembayaran impor tetap bergantung pada dolar AS sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.
“Ketika ekspor meningkat, Indonesia akan memperoleh lebih banyak dolar. Ini bisa membantu memperkuat cadangan devisa dan mengurangi tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Muljadi mengimbau masyarakat untuk mulai mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan lebih mengutamakan penggunaan produk dalam negeri.
“Semakin banyak transaksi menggunakan produk lokal, semakin kecil ketergantungan terhadap barang impor yang membutuhkan dolar dalam proses pembeliannya,” jelasnya.
Ia menilai gerakan mencintai produk lokal tidak hanya membantu pelaku usaha dan UMKM, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Kalau kita ingin tekanan terhadap rupiah berkurang, maka ekspor harus ditingkatkan dan impor harus ditekan. Salah satu caranya adalah dengan membeli dan menggunakan produk-produk buatan Indonesia,” pungkasnya. (*)











